Home » , , , » Film : Di Bawah Lindungan Ka’bah

Film : Di Bawah Lindungan Ka’bah

Written By ClustAdmin on 18 April 2014 | 15.18


Karya Roman  Hamka “Di Bawah Lindungan Ka’bah” berada pada setting sosial masyarakat Minangkabau pada awal abad ke-20. Pada waktu ini kehidupan masyarakat  berada di bawah pemerintahan kolonial dan jauh dari gambaran kehidupan masyarakat Padang masa kini, dimana alat transportasi dan komunikasi masih sangat jauh tertinggal dibandingkan waktu sekarang.
Melalui roman yang ditulis sekitar tahun 1936 ini, Hamka ingin menyampaikan pesan tentang realitas masyarakat yang masih dibelenggu  perbedaan kelas sosial (kaya dan miskin). Realitas ini pula yang membuat cinta sepasang remaja (Hamid dan Zainab yang menjadi tokoh utama kisah ini), menjadi tidak kesampaian (Kasiah Tak Sampai). Bagian ini kemudian oleh Hamka dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan agama melalui alur cerita ‘pelarian’ Hamid untuk membendung hasrat cinta yang terhalang perbedaan kelas itu dengan cara ‘menemui Tuhan’, yang dia tahu, dalam Islam (di mata Tuhan) tidak ada perbedaan kelas sosial  (kaya dan miskin), kecuali hanya oleh derajat keimanan dan ketaqwaan manusia itu sendiri.
Pada tahun 1981 Asrul Sani pernah mengangkat kisah ini ke layar lebar dengan judul yang sama.  Film ini oleh Asrul Sani dikaitkan dengan perlawanan terhadap penjajahan Belanda dan otoritas ortodoksi agama dalam kerangka pembaharuan Islam. Namun karena iklim politik masa pemerintahan Orde Baru yang alergi dengan apapun yang berbau Ka’bah, akhirnya judul film ini diganti dengan “Para Perintis Kemerdekaan
Tahun 2011, setelah mencatat kisah sukses beberapa film produksinya, produser Dhamoo Punjabi dan Manoj Punjabi melalui MD Picture kembali mengangkat karya Hamka Di Bawah Lindungan Ka’bah ini untuk menyusul sukses film Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy, kemudian film “Ketika Cinta Bertasbih I dan II”, dan terakhir film Dalam Mahrab Cinta karya novelis yang sama   
Ketiga film ini sukses besar karena berhasil memenuhi selera zaman (zeitgeist) dimana trend muslimah berjilbab menjadi arus utama gaya hidup di kalangan muslim Indonesia kontemporer,  tema-tema tontonan kisah cinta perempuan berjilbab mendapatkan tempat tersendiri di masyarakat. Bahkan perkembangan ini telah dikondisikan pula oleh trend buku-buku bacaan Islam serta kisah-kisah cinta Islami  yang sangat laku di pasaran.
Kedua fenomena itulah yang agaknya mendorong MD Picture tahun yang lalu mengangkat kembali Roman karya Hamka ini ke layar lebar untuk konsumsi suasana lebaran Idul Fitri 1432 H yang lalu.
Penggarapan film Di Bawah Lindungan Ka’bah versi MD Picture yang disutradarai Hanny R. Saputra dan penulis scenario Armantona dan Titien Wattimena ini, boleh dibilang luar biasa. Paling tidak, dari segi pembiayaannya yang konon mencapai angka 25 Milyar itu jelas jauh lebih tinggi dan melampaui pembiayaan film-film yang mendahuluinya. Hampir semua properti dibuat mendekati bentuk serta ukuran aslinya, apalagi artis-artis yang membintanginya terbilang cukup senior di blantika perfilman nasional, seperti  Widyawati, Didi Petet, Yenny Rachman, dan Leroy Osmani, ditambah lagi dengan bintang-bintang yunior yang sedang berkilau Herjunot Ali, Laudya Chintia Bella, Tarra Budiman dan Niken Anjani, cukup menjadi jaminan bahwa film ini akan tergarap optimal serta memenuhi tuntutan penggemar film nasional.
Penggarapan sebuah film yang katanya : based on Indonesia’s best remembered novel by Buya Hamka ini, meski telah berusaha untuk masuk ke setting zaman tahun 20an, namun terasa ada saja beberapa frame tertentu yang membuat  karya besar ini terekspresikan menjadi film yang cenderung “picisan”,  terutama manakala tuntutan selera  penonton masa kini disajikan ahistoric dan tanpa mempertimbangkan latar budaya masyarakat yang jauh dari jangkauan modernisasi. Beberapa bagian ini, menurut penulis, merupakan penggarapan yang sangat mendangkalkan ide cerita secara keseluruhan. Hukuman sosial terhadap Hamid atas kesalahannya berbuat sumbang dengan memberi bantuan pernafasan melalui mouth to mouth ventilation kepada Zainab yang tercebur ke sungai, terasa sangat anakronis dengan situasi zaman. Kasus ini pula yang oleh penulis skenario dijadikan alasan kenapa Hamid kemudian harus terusir dari kampung halamannya.
Alur cerita novel roman karya Hamka, sebenarnya, ingin memberikan alasan bagi ‘pelarian’ Hamid yaitu keputusasaan atas realitas sosial masyarakatnya yang mempertahankan perbedaan status sosial kaya dan miskin yang sangat bertolak belakang dengan ajaran agama Islam. Lalu ‘memaksa’nya meninggalkan Zainab dan berangkat menuju Makkah sebagai yang pernah ia cita-citakan, dengan keyakinan bahwa segala cita2 dan hasrat cinta seorang hamba hanya akan ditentukan oleh Allah SWT. Namun dalam film ini alasan tersebut menjadi sedikit terganggu oleh kisah pengusiran Hamid dan meninggalnya sosok ibu sebagai satu-satunya keluarga Hamid yang seolah dijadikan alasan lain kenapa Hamid kemudian meninggalkan kampungnya buat selama-lamanya.
Kisah romantic film ini memfokus pada kisah percintaan zaman doeloe yang tentunya puncak paling kritis dari plot cerita ditempatkan pada ‘perpisahan’ kedua insan ini pada waktu Hamid akan meninggalkan Zainab. Namun, tanpa mengurangi akting Herjunot Ali dan Laudya Chintya Bella di saat saat tragis di tempat rendezvous di mana keduanya saling berbicara di balik dinding kayu atau di saat Zainab mengejar Hamid ke stasiun, ternyata ter’kalah’kan oleh ekspressi cinta Hamid dan ibunya yang diperankan Yenny Rachman dengan sangat luar biasa. Yenny Rachman yang telah memiliki pengalaman akting begitu banyak ini mampu menerjemahkan ide cerita dengan sangat bagus. Sebagai janda yang mengalami konflik batin antara menyetujui keinginan anaknya dan merestui hubungan “terlarang” Hamid dengan putri majikannya atau melarang hubungan itu karena tebalnya garis pembatas antara status sosial keluarganya dengan keluarga majikannya dan lalu dia harus menyakiti perasaan anaknya sendiri. Ini adalah parental complex sydrom yang terekspresikan dengan lebih baik pada film ini melebihi sindrom “kasiah tak sampai” nya Hamid dan Zainab yang merupakan tema utama cerita sesungguhnya.
Pencitraan karya roman yang diangkat ke layar lebar menjadi sangat ironis ketika penggunaan peran pembantu dan properti-properti yang tidak mempertimbangkan situasi sosial dimana dan kapan cerita aslinya disetting oleh penulis. Dalam film ini sangat terasa ‘kegagalan’ sutradara yang ‘memaksakan diri’ menampilkan sosok tokoh besar dalam alur cerita yaitu Kiyai Haji Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan (Kyai Haji) Agussalim. Keduanya tidak asing lagi dalam sejarah perjuangan bangsa ini. Namun pemunculan keduanya dalam beberapa frame sebagai obyek “foto bersama” terkesan tidak memiliki historisitas, bahkan sangat memprihatinkan. 
Hal yang lebih parah lagi bila kesyahduan kisah roman ini diinterpolasi pula dengan pariwara terselubung yang sangat anakronis, seperti  munculnya beberapa frame yang ‘memperlihatkan Kacang Garuda dalam bungkus yang dilabel dengan ejaan lama “Garoeda Katjang Koelit” yang kita tahu bahwa sejarah Garuda Food yang memproduksi kacang, baru pada akhir tahun 1950an, demikian juga obat nyamuk yang dibakar di atas kertas pembungkus yang bermerek Baygon yang juga muncul pada beberapa frame, menjadi sebuah manipulasi sejarah yang salah untuk pembenaran historis pengalaman produk yang mensponsori film ini tentunya.
Namun demikian, diakui bahwa kehadiran film ini di tengah kegersangan film nasional bermutu, terasa sangat besar artinya bagi perfilman nasional, beberapa komentar dari negara-negara tetangga tentang film ini, memberi peluang film nasional yang satu ini akan mampu berkompetisi di ajang kompetisi film internasional, atau paling tidak di tingkat Asean, mudah-mudahan….amiin.
© Irhash A. Shamad.
Disampaikan dalam acara Bedah Film dan Pameran Dokumenta Historika, Laboratorium Sejarah pada Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang  07 Maret 2012
Share this article :

Posting Komentar

Maklumat

Maklumat
 
Support : Pandani Web Design
Copyright © 2009-2014. Irhash's Cluster - All Rights Reserved
Template Created by Maskolis
Proudly powered by Blogger