TERBARU

"Hadza Min Fadhli Rabby" : Pengalaman Haji Atas Undangan Raja Saudi Arabia (Bagian 6)

Written By ClustAdmin on 26 Agustus 2016 | 19.30

Selesai pelaksanaan ibadah haji, semua jama’ah haji undangan kerajaan direncanakan akan diberangkatkan ke Madinah Al-Munawwarah pagi besok (Selasa 07/10). Malam ini, semua barang-barang jamaah dikemas untuk persiapan check out dari Hotel Makarim Ummul Quro. Diinformasikan bahwa sebelum shubuh semua bagasi sudah dikumpulkan di lobby hotel,  karena itu saya dan beberapa temanpun malam ini berkemas-kemas. Acara berkemas ini baru selesai hingga lewat tengah malam, karena sebelumnya kami lebih memilih istirahat sesudah shalat Maghrib. Selesai berkemas saya sendiri tidak lagi bisa tidur hingga shubuh, meskipun kali ini saya merasa agak sedikit lelah secara fisik, akan tetapi sulit untuk diistirahat-tidurkan. Jujur, malam ini kelelahan saya bercampurbaur dengan perasaan sedih karena besok sudah harus meninggalkan Mekkah, begitu singkat rasanya kesempatan bagi saya untuk dapat menghirup udara kota kelahiran Rasulullah ini dengan segala keberkahannya, waktu dan kesempatan yang entah kapan dapat kembali bisa saya rasakan.

Mengingat banyaknya jumlah armada bus yang akan mengangkut jama’ah ke Madinah,  membuat panitia sedikit kewalahan dalam mengatur seat setiap jama’ah. Meskipun pada awalnya nomor bus dan nomor  seat telah diatur sedemikian rupa, bahkan sejak waktu keberangkatan ke ‘Arafah, namun kali ini tidak mungkin untuk diberlakukan lagi, sehingga kelompok “caravan bus” inipun disesuaikan dengan negara masing-masing. Setidaknya hampir tiga puluh bus harus parkir  berjajar secara bergantian di depan hotel Makarim Ummul Qura saat menjelang keberangkatan ini. Keadaan inipun membuat petugas bagasi bekerja sedikit lebih ekstra. Itupun belum termasuk persiapan konsumsi dan snack bagi para jama’ah untuk selama di perjalanan. Keadaan yang digambarkan telah menyebabkan jadwal keberangkatan berubah dari rencana semula.


Jama’ah baru bisa diberangkatkan sekitar jam 09.30 pagi menuju Madinah. Perjalanan darat yang begitu panjang dari Makkah ke Madinah telah memberi kesan tersendiri bagi setiap jamaah, terutama bagi saya sendiri. Pertama tentu sarana jalan yang begitu mulus dan lebar telah membuat perjalanan sangat menyenangkan, demikianpun pemandangan kiri kanan jalan yang berupa bukit-bukit batu telah menawarkan pesona yang tak biasa dalam pemandangan kami. Jejeran kendaraan bus tamu kerajaan yang panjang merayap ditengah jalanan mulus diantara bukit-bukit batu sembari diterpa teriknya panas matahari itu, sukar sekali untuk dilupakan.

Bagi saya yang baru pertama kali menjelajahi kawasan padang pasir Hejaz ini, telah membangkitkan naluri kesejarahan yang begitu mendalam. Ketika yang lain hanyut dalam nuansa lanskap yang ‘indah’ itu, saya justru terhanyut membayangkan ketika Rasulullah dan para shahabat melakukan hijrah 14 abad yang lalu ; ketika dimana belum ada jalan mulus seperti yang saya lihat hari ini. Terbayang sulitnya perjalanan Baginda Rasul menelusuri padang pasir dan relung-relung bukit-bukit batu panas beratus-ratus kilometer hingga sampai ke Yatsrib (Madinah). Sungguh suatu perjuangan yang teramat berat untuk sebuah perubahan (hijrah), perjuangan untuk tetap survive dalam sebuah keyakinan (Islam), dan keteguhan hati dalam suatu komitmen untuk mengubah peradaban umat manusia sebagai amanah kerasulannya. Beratnya tantangan Rasulullah yang ‘hadir’ saat menyaksikan pemandangan topografi wilayah ini adalah bagaimana sulitnya medan serta jauhnya jarak tempuh yang dilakukan oleh rombongan Beliau waktu itu, yang tentu saja sangat mustahil untuk kita lakukan pada saat ini, meskipun pikiran ‘gila’ untuk sekali waktu (nanti) dapat melakukan napak-tilas perjalanan hijrah Rasul ini terbersit juga di hati saya yang entah kapan itu bisa saya wujudkan.

Kedua, pelayanan prima yang mengesankan dari para panitia setempat sungguh kami rasakan sangat luar biasa. Untuk satu bus jama’ah, setidaknya ada tiga orang panitia yang menamani perjalanan kami. Sikap yang ramah dan tulus lebih kami rasakan dalam kebersamaan kali ini. Panitia yang notabene pada waktu persiapan keberangkatan sudah begitu sibuk mengurusi segalanya, pengaturan seat, bagasi dan sebagainya, namun dalam perjalanan ini masih terlihat tegar untuk memanjakan para jama’ah dengan berbagai pelayanan. 

Saya memiliki kesan tersendiri pula sepanjang perjalanan ini. Saya yang semula membayangkan petugas/panitia yang melayani ini adalah mereka yang berpakaian layaknya kurir, atau paling tidak sama dengan security sebagaimana waktu di hotel, namun ternyata adalah pemuda-pemuda tampan berpakaian gamis putih lengkap dengan serban merah dan egal  layaknya pejabat-pejabat Arab Saudi. Waktu di hotel saya sedikit menaruh hormat pada mereka, karena saya memandang mereka seperti syekh-syekh yang alim di negara saya, dan memang betul sebagian besar mereka ternyata sangat memahami kaidah-kaidah agama dengan sangat baik, ahli tafsir dan bahkan ada yang qari’, untuk itu saya berasa agak sungkan ketika berurusan dengan ‘beliau-beliau’ itu. Namun ketika perjalanan darat dari Makkah ke Madinah ini, hal itu kemudian mencair dan membuat saya sangat haru ; mereka dengan setia memenuhi segala keperluan jama’ah dan betul-betul ikhlash melayani, sekecil apapun keperluan itu. Selama di perjalanan merekalah yang langsung membagikan snack, buah serta minuman di setiap jarak waktu tertentu. Mendekati separo perjalanan, pada waktu mereka menawarkan pilihan snack pada jama’ah, saya sempat bertanya kepada salah seorang, apakah keripik ketela yang tadi masih ada?, (karena snack itu sangat saya sukai diantara cemilan yang tersedia lainnya). Beliau menjawab, wah sayangnya yang itu sudah tidak ada lagi!, tapi bila antum menginginkannya, insyaAllah nanti akan saya belikan, lalu saya cepat-cepat menjawab, la,…la ba`sa, …ya sudah, kalau begitu tidak usah saja, tidak apa-apa!, kira-kira begitu jawaban saya dengan bahasa Arab yang terbata-bata. Beberapa menit setelah itu, bus kamipun berhenti di sebuah tempat peristirahatan di tengah padang pasir, dimana terdapat sekelompok bangunan dengan beberapa toko, masjid (saya lupa nama masjidnya), dan beberapa fasilitas lain seperti tempat pengisian premium dan juga terminal truk. Kami melakukan shalat Zhuhur di masjid ini sembari berehat seperlunya. Saat kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan, dan saat ransum makan siang akan dibagikan, tiba-tiba panitia yang sebelum pemberhentian sempat dialog dengan saya tadi lalu mendekati saya dan memberikan sebungkus besar keripik ketela yang tadi saya tanyakan, saya kaget, subhanAllah!, ternyata dia tetap memenuhi permintaan saya itu, meski sebelumnya saya sudah menolaknya.…. Saya sungguh sangat terkesan, dan benar-benar sungkan sekali pada waktu ini, saya sangat terharu dengan gaya pelayanan seperti ini, saya hanya bisa berucap alhamdulillah dan sangat berterimakasih kepada panitia yang baik hati ini, rupanya ia sengaja membelikan keripik ketela untuk saya sewaktu di pemberhentian tadi. Di sinilah, bayangan tentang ‘orang Arab kaya dan sedikit angkuh’ sebagaimana sebelumnya ada di benakku, benar-benar menjadi luntur pada waktu ini…. Subhanallah!


Memasuki kota Madinatul Munawwarah menjelang Ashar, bus kami memutar seperti mengelilingi kota Madinah.  Entah karena sopir yang keliru mengambil jalan atau memang disengaja memberi kesempatan kepada jama’ah untuk melihat-lihat kota secara keseluruhan, yang pasti, kami para jama’ah sangat terpuaskan dengan keadaan ini. Dari kejauhan sudah terlihat Masjid An-Nabawi terbentang luas dengan megahnya seakan mengucapkan selamat datang kepada kami. Di kota inilah pemerintahan Islam pertama didirikan dengan segala suka-duka yang  dialami oleh Rasulullah di zamannya. Di kota ini, … ya kota yang tentunya belum seluas dan seindah yang kami saksikan sekarang….subhanAllah walhamduliLlah. ......(bersambung) 

© Irhash A. Shamad

Irhash Gallery : "Jalla Jalalah 4"

Written By ClustAdmin on 13 Oktober 2015 | 11.33



Irhash 2015 : "Jalla Jalala 4", oil on canvas, mix media (70 x 70 cm.)


Irhash Gallery : "Jalla Jalalah 3"

Written By ClustAdmin on 11 Oktober 2015 | 14.14


Irhash 2015 : "Jalla Jalalah 3", oil on canvas, mix media (70 x 70 cm.)

Album : Forum Dekan dan Asosiasi Dosen Fakultas Adab dan Humaniora

Written By ClustAdmin on 20 Juni 2015 | 02.08



Forum Dekan Fakultas Adab UIN/IAIN/STAIN se-Indonesia 2007 di Jakarta


     Forum Dekan/ADIA Fakultas Adab UIN/IAIN/STAIN se-Indonesia 2008 di Aceh Darussalam 









Album : Fakultas Ilmu Budaya-Adab

"Hadza Min Fadhli Rabby" : Pengalaman Haji Atas Undangan Raja Saudi Arabia 2014 (Bagian 5)

Written By ClustAdmin on 01 Maret 2015 | 05.17



Lewat  jam 02.00 dini hari perjalanan dilanjutkan ke Mina. Semua rombongan kembali menaiki bus masing-masing, dan caravan kamipun menyusuri jalan padat menuju Mina yang penuh dengan para jama’ah layaknya hijrah massal. Mendekati shubuh barulah rombongan memasuki Mina, karena konvoi kendaraan kami tidak bisa bergerak dengan cepat. Sesampai di Mina kami para jamaah tamu ditempatkan di beberapa tenda dalam satu komplek khusus di pinggiran jalan masuk lantai 1 dan 2 Jamaraat, atau tepatnya berseberangan jalan dengan masjid Al-Khaif. Komplek tenda jamaah tamu yang hanya berjarak l.k. 500 meter dari jumratul uula ini memiliki fasillitas sama dengan yang terdapat pada tenda-tenda yang ditempati di Arafah, kecuali hanya tidak memiliki ruang terbuka yang cukup, yang ada hanya gang-gang diantara tenda-tenda. Begitu keluar komplek tenda langsung berhubungan dengan jalan masuk jamaraat lantai 1 dan 2. 



Tanpa mengambil istirahat, sesudah shalat shubuh kamipun langsung menuju jamaraat untuk melempar jumrah ‘AqabahBagi saya yang pertama kali menjalankan ibadah haji, sebelumnya hanya cerita yang baru saya ketahui tentang  Jamaraat.  Jamaraat adalah simbol syetan yang mengganggu Nabi Ibrahim sewaktu akan menjalankan perintah Allah saat Nabi Ibahim akan menyembelih anak kesayangannya Ismail atas perintah Allah, karena itulah umat Islam kemudian disyariatkan pula untuk melempar  jamaraat yang tiga itu sebagai simbol perlawanan terhadap syetan yang selalu menggoda manusia agar mengingkari syariat Allah SWT. Semula dugaan saya simbol itu tak lebih dari sebuah simbol, begitu juga jamaraat yang menjadi simbol syethan musuh manusia.
Pengalaman pertama di jamaraat ini, terutama sewaktu melalui jumrah uula untuk mencapai jumrah ‘aqabah, bulu kuduk saya tiba-tiba merinding, dan sangat merinding entah kenapa?… mungkinkah hanya saya yang merasakannya?, karena saya melihat orang-orang lain yang berdesakan melempar jumrah itu nampaknya biasa-biasa saja. Begitu jelas ditelinga saya terdengar suara raungan nyaring dan sengau mengiringi gemuruh keramaian jamaah, entah dari mana asalnya, namun yang pasti itu bukan raungan biasa. Saya mencoba untuk memilah pendengaran saya antara gemuruh dan pekikan sengau tersebut, karena mungkin saja itu efek akustik dari gemuruh suara keramaian, namun itupun tidak relevan. Setelah melewati jumrah uula, saya mencoba kembali mengamati suara nyaring itu, saya sengaja berdiam sejenak untuk kembali memilah antara suara gemuruh dan raungan nyaring itu, namun tetap masih terdengar dan menakutkan. Subhanallah, saya benar-benar merinding saat ini, keringatpun membasahi hampir seluruh tubuh saya, dan terasa gemetar seluruh persendian, karena semakin saya fokus pada suara aneh itu, semakin nyaring saja terdengar. Ingin saya memastikan melalui teman sesama jamaah tamu yang semula bersama saya ke jamaraat, namun ia tidak lagi kelihatan dan mungkin sudah lebih dulu ke jumrah ‘aqabah. Kemudian sayapun menuju jumrah ‘aqabah untuk menyelesaikan rukun haji, meski suara itu tetap terdengar. Saya berusaha untuk tidak emosional dalam melempar sesuai yang saya ketahui sebelumnya, dan sayapun tidak larut memikirkan suara aneh tadi dalam melempar. Mungkinkah itu suara pekikan syethan yang sedang dilempari beramai-ramai yang diperdengarkan kepada saya, ataukah hanya halusinasi semata? Wallahu a’lamu bish-shawab.      
Setelah ramyu di jumrah, saya selanjutnya kembali ke tenda untuk mencukur rambut supaya bisa secepatnya tahallul agar kami dapat melepas pakaian ihram. Semula saya menduga bercukur harus dilakukan sendiri-sendiri, karena itu selesai melempar jumrah ‘aqabah begitu sampai di jalan keluar jamaraat banyak sekali ditemukan barbershop untuk bercukur bagi para jama’ah yang ingin tahallul. Saya semula akan bercukur di salah satu barbershop itu, namun karena ramainya antrian, niat itu saya batalkan. Saya bersama salah seorang teman dari Manado yang bertemu saat keluar jamaraat, kemudian pulang ke tenda untuk bercukur bersama jama’ah yang lain.
Di tenda-tenda jamaah tamu, sebenarnya sudah disediakan  beberapa tukang cukur, akan tetapi tidak sedikit juga diantara jamaah saling cukur dengan cara masing-masing. Sayapun mencoba untuk bercukur bergantian dengan salah seorang jamaah dari Thailand. Dengan modal gunting dan satu cermin kecil, maka saya mencoba mengunting rambutnya secara berangsur hingga pendeknya merata dan rapi sesuai keinginannya. Akan tetapi ketika giliran dia menggunting rambut saya, saya meminta agar tidak terlalu pendek, tapi cukup sisakan 2 cm merata. Kami tidak menggunakan kaca depan dan belakang untuk mengontrol hasil guntingan itu, kecuali hanya sebuah kaca cermin di depan. Selebihnya adalah rasa saling percaya saja. Maka selesailah satu sesi yang memungkinkan kami dapat melepas pakaian ihram.
Apa yang kemudian saya ketahui di sore harinya adalah ternyata rambut bagian belakang saya digunting tidak karuan, belang-belang, bergaris-garis, dan sebagian tebal sebagian begitu tipis bahkan kurang dari setengah sentimeter. Hal ini saya ketahui setelah mencoba memotret bagian belakang kepala dengan menggunakan handphone, wadouhh!…. tidak dapat saya bayangkan betapa itu memalukan, karena ini kepala sudah saya bawa kemana-mana keluar tenda pada waktu siangnya. Lebih herannya lagi, tidak satupun diantara jama’ah tamu lain mengingatkan saya tentang hal ini. Karena itu saya segera mencari pertolongan  kepada salah seorang  jamaah, kalau-kalau ada yang membawa mesin potong  rambut untuk merapikan rambut saya, dan alhamdulillah dengan batuan salah seorang jamaah dari Indonesia menjelang maghrib rambut saya sudah dirapikan secara merata sesuai ukuran terpendek hasil karya teman Thailand saya itu, meskipun terpaksa harus plontos, dan tidak seperti yang saya inginkan semula,….. namun,  ini menjadi pengalaman plontos kedua bagi saya sesudah plontos untuk perpeloncoan waktu masuk perguruan tinggi lebih dari 30 tahun yang lalu.



Sesuai penjadwalan panitia, kami jamaah tamu kerajaan hanya mengambil Nafar Awal, oleh karenanya mabit di Mina sampai hari kedua tasyriq. Hari ini kami jamaah tamu secara berombongan berangkat ke jamaraat untuk melempar ketiga jumrah untuk kemudian langsung meninggalkan Mina. Semua tas dikumpulkan untuk di bawa langsung ke Madinah, sementara semua jamaah kembali ke Makkah untuk menunaikan thawaf ifadah. Selesai melempar jumrah ‘Aqabah seyogianya di luar area sudah menunggu bus-bus kerajaan yang akan membawa kami kembali ke hotel, namun karena kemacetan lalu lintas Mina dan Makkah, bus kami terpaksa menunggu kurang lebih 3 km dari Mina. Karena itu kami harus berjalan kaki ke tempat bus tersebut. Kali ini saya benar-benar merasakan berhaji yang sesungguhnya, berbaur bersama jamaah yang bermacam ragam dan berjalan di panas terik dengan suhu yang sangat tinggi. Saya merasakan bagaimana berebutan air mineral yang dibagikan dari atas truk serta semprotan dari truk-truk air untuk membantu kelembaban udara, serta menghayati bagaimana hausnya kafilah yang menyusuri padang pasir di panas terik.  Meskipun kami berjalan diatas jalan beraspal yang panas dan menyisir banyak sekali kendaraan yang terpaksa parkir karena macet, namun ini cukup menjadi pengalaman yang berharga.
Sesampai di hotel semua jamaah beristirahat menunggu maghrib untuk kemudian menyelesaikan rukun terakhir pelaksanaan ibadah haji ini, yaitu thawaf ifadhah. Pelaksanaan thawaf ifadhah di Masjidil Haram diserahkan kepada masing-masing jamaah. Saya dengan beberapa orang berangkat ke Masjidil Haram setelah maghrib dan menyelesaikan thawaf dan sa’i hingga jam 10.00 WSA. Dengan demikian setelah tahallul tsani, berakhirlah pelaksanaa ibadah haji dengan harapan kiranya semua rangkaian ibadah ini diterima Allah SWT sebagai hajjan mabruran, wa sa’iyan masykuuran wa zanban maghfuuran, wa tijaaratan lan tabuuran……aamiiin....  (baca lanjutannya.....klik di sini)
© Irhash A. Shamad

"Hadza Min Fadhli Rabby" : Pengalaman Haji Atas Undangan Raja Saudi Arabia 2014 (Bagian 4)

Written By ClustAdmin on 15 Februari 2015 | 20.17





Jam 16.00 WSA sore, iring-iringan rombongan bus jama’ah tamu kerajaan sampai di ‘Arafah. Masing-masing telah disediakan tenda sesuai negara dan wilayah regional masing-masing. Kami jama’ah tamu dari Indonesia ditempatkan satu tenda dengan Malaysia dan Philipina. Tenda-tenda yang cukup besar untuk menampung jamaah ini berada pada blok  tersendiri. Di sini fasilitas untuk jama’ah sangat memadai, tersedia tenda yang berfungsi sebagai masjid, tenda ruang makan, restoran, klinik pengobatan, MCK serta fasilitas umum lainnya.


Kenyamanan lingkungan blok ini lebih dirasakan dengan adanya pohon-pohon pelindung serta pekarangan yang seluruhnya ditutupi dengan karpet rumputan berwarna hijau, meski dengan rerumputan artifisial, namun cukup menimbulkan kesan yang sejuk. Suasana di dalam tenda juga tidak kurang kenyamanannya. Satu tenda besar yang ditempati oleh l.k. 100 orang mungkin terkesan sumpek dan gerah, namun karena masing-masing tenda juga dilengkapi dengan air conditioner (AC) yang cukup, sehingga suasana didalamnya cukup sejuk. Semua tenda-tenda itu juga dilengkapi dengan kasur dan selimut untuk setiap jama’ah tamu. Dengan demikian pelaksanaan ibadah dan zikir jama’ah didalamnya dapat dilakukan dengan lebih khusyu’.
Demikian juga MCK tersedia cukup banyak sehingga hampir tidak memerlukan waktu untuk antrian, namun yang sedikit agak perlu menyesuaikan adalah air wudhu’ dan air mandi yang tersedia cukup panas menurut ukuran biasa, sehingga setiap kali  sehabis mandi dan wudhu’ tidak terasa segar. Makanan serta minuman yang disediakan khusus untuk jamaah tamu ditempatkan pada satu tenda khusus. Tidak ada kesan “darurat” dalam pelayanan makanan dan minuman,  bahkan juga dalam penyajiannya. Semua itu persis sama dengan pelayanan yang ada di hotel, termasuk variasi menu yang disediakan, yang berbeda hanyalah tidak tersedianya kursi dan meja untuk makan. Soal yang terakhir ini yang sedikit berkesan “darurat” ; para tamu dipersilakan mencari sendiri tempat duduk, apakah di tenda masing, di taman-taman atau di gang-gang antara tenda yang memang sudah dialasi karpet hijau, apalagi pula terdapat banyak pohon pelindung.
Apa yang dikemukakan tentu dapat dimaklumi. Bahkan menurut saya, pengalaman spritual ibadah haji sepatutnya benar-benar menjadi ‘napak tilas’ pelaksanaan haji Rasulullah SAW,  paling tidak segala duka dan kesulitan di masa itu dapat dihayati. Saat pikiran saya mencoba untuk membayangkan realitas masa Rasulullah, rasanya apa yang kami alami dalam pelaksanaan haji kali ini sudah terlalu “mewah”, bahkan terkadang hati kecil saya seperti merasa tidak sempurna dan kurang afdhal saja  pelaksanaan ibadah haji ini, meski tetap berharap tidak akan kurang nilainya di mata Allah SWT.
Kami jamaah tamu mendengarkan khutbah Arafah pada Jum’at 03 Oktober di dalam tenda yang dikhususkan untuk masjid. Khutbah Arafah hanya kami saksikan melalui layar monitor. Untuk setiap negara-negara ‘ajam (yang tidak berbahasa Arab) masing-masing  dibantu oleh seorang interpreter yang bertugas menterjemahkan isi khutbah kepada bahasa masing-masing. Lautan manusia yang mendengarkan khutbah Arafah di lapangan hanya dapat disaksikan lewat monitor. Dalam hati,  saya rasanya mau protes kenapa kami tidak diberi pengalaman menyatu dengan umat muslim yang banyak itu saat ini? ; seyogianya di saat saat seperti inilah kami dapat merasakan “padang mahsyar” dunia itu, karena saat ini semua jamaah haji dari seluruh dunia berkumpul pada satu titik dan detik secara bersamaan….betapa indahnya. Namun apa hendak dikata, semua kami tunduk pada aturan-aturan yang menjadi ketetapan penyelenggara yang mengurus penyelenggaraan haji tamu Khadim Haramayn ini. 

Selesai shalat jum’at, saat saat dimana wuquf di mulai, para jamaah mencari tempat masing-masing secara bebas untuk berzikir dan berdo’a menjelang terbenamnya matahari ; ada yang kembali ke tenda, ada yang mengambil tempat dipojok-pojok tenda, tetapi saya dan salah seorang teman dari Jawa Barat sengaja mengambil tempat di luar tenda, persisnya di tempat yang agak jauh dari tenda, Ini sengaja kami lakukan untuk sedikit merasakan panasnya suhu padang Arafah, meski tidak kena matahari langsung, namun cukup untuk sedikit menghayati padang Arafah dalam arti yang sesungguhnya.  Do’a-do’a wuquf yang melantun di tengah suhu seperti ini terasa lebih menjiwai, karenanya kesempatan wuquf ini saya gunakan sebaik-baiknya untuk tidak saja mewiridkan zikir dan do’a seperti yang diajarkan Rasulullah, tetapi do’a-do’a dan segala ‘pengaduan’ atas segala hal yang telah berlaku dalam kehidupan saya dan semua keluarga saya, baik suka maupun duka yang telah kami  alami selama ini, segala alpha dan kelemahan diri yang disesali. Terasa betapa ‘malu’ diri ini dihadapanNya atas semua itu, dan betapa kecilnya diri ini dan bahkan rasanya kurang pantas untuk berharap kehadiratNya, mengingat belum sempurnanya segala kewajiban tertunai sesuai syari’atNya, dan betapa terlalu banyak karunia dan kasih sayangnya yang telah dicurahkanNya kepada saya dan keluarga yang kadang tanpa kesyukuran yang berarti dari kami yang tak tahu diri…..betapa berdosanya diri ini kurasakan!. Konflik batin ini kurasakan tak ubahnya bagai pengadilan “mahsyar” atas diri saya sendiri. Tak sedikit air mata yang tercurah mengiringi “ratapan” dan do’a-do’a itu, hingga terleraikan oleh waktu ‘Ashar. Setelah shalatpun semua itu terulang kembali hingga saatnya kami bersiap-siap untuk diberangkatkan ke Mudzdalifah saat mata hari terbenam.


Kami berangkat ke Mudzdalifah pada saat menjelang maghrib dengan manaiki bus-bus tamu kerajaan yang memang telah standby di luar area sesuai dengan nomor bus yang ditentukan sedari awal. Membayangkan caravan onta Rasulullah dulu, bus-bus kamipun bergerak ke Mudzdalifah di tengah keramaian umat dengan berbagai macam jenis kendaraan, bahkan ada diantaranya yang berjalan kaki, sesekali saya berfikir alangkah lebih afdhalnya ibadah mereka yang benar-benar merasakan perjalanan malam ke Mudzdalifah tanpa menggunakan kendaraan itu.
Jarak antara Arafah dan Mudzdalifah tidaklah begitu jauh, namun masa tempuhnya begitu lama, karena bus kami tidak bisa bergerak cepat akibat ramainya lalu lintas pada waktu ini.  Lebih kurang jam 10.00 WSA malam, kami sampai di Mudzdalifah. Bus-bus jamaah tamu yang seragam ini berjejer disepanjang jalan Jawhara. Kami semua turun untuk mabit dengan terlebih dahulu shalat Maghrib dan Isya’ yang dijama’ serta memungut kerikil-kerikil yang akan digunakan nanti di jamarat. Begitu bus-bus kami berhenti, panitia langsung membentangkan beberapa permadani di jalanan diantara bus-bus tersebut, agar para jamaah dapat melaksanakan shalat, berzikir dan berdoa selama mabit, dan menunggu saat-saat perjalanan dilanjutkan ke Mina menjelang Shubuh............
(baca lanjutannya..... klik di sini)

© Irhash A. Shamad

"Hadza Min Fadhli Rabby" : Pengalaman Haji Atas Undangan Raja Saudi Arabia 2014 (Bagian 3)

Written By ClustAdmin on 13 Februari 2015 | 22.29



Hari-hari menjelang wukuf (Haji), hanya diisi dengan kegiatan ibadah malam di Masjidil Haram, karena waktu-waktu siangnya kami lebih memilih berada di hotel, karena suhu pada waktu siang sangat begitu menyengat. Untuk ibadah malam ini memang diatur sendiri-sendiri, kadang saya berangkat sebelum Maghrib dan pulang setelah Isya untuk makan malam dan kembali lagi jam 03.00 hingga Shubuh, dan tak jarang juga ke Masjidil Haram sebelum Isya dan pulangnya pagi. Tidak ada pengaturan oleh panitia menyangkut ibadah, kecuali transportasi yang selalu tersedia, juga hidangan makan, snack malam serta buah-buahan yang selalu ada. Bagi saya, pelayanan jamaah tamu ini dirasakan sangat luar biasa, karena benar-benar memberi kemudahan dan sangat menyenangkan. Suatu hal yang sangat berkesan pula adalah pada saat setiap keluar dan masuk hotel selalu disambut dengan tuangan air zamzam dan hidangan kurma oleh petugas yang khusus untuk itu. Namun ada satu hal yang selalu harus kami ingat setiap akan keluar hotel, yaitu memakai ID Card Haji Undangan Khadim Haramayn yang telah diberikan kepada kami sewaktu tiba di Makkah. ID Card itu harus selalu terpasang di dada. Kalau suatu saat kelupaan dan tidak bisa menunjukkan kepada petugas, maka kami akan kesulitan untuk masuk ke hotel. Petugas security sangat ketat dan tegas pada tamu-tamu yang tidak memiliki ID Card, namun juga sangat ramah untuk ukuran petugas security, mereka bahkan juga tak segan-segan melayani dan membantu pada saat tamu memerlukannya, meskipun itu bukan tugas mereka.

Demikianlah hari-hari di hotel Makarim. Sesekali bercengkrama dengan petugas, dengan tamu yang berbeda negara, begitu juga dengan panitia, sungguh mengasyikkan juga, meski dengan bahasa yang pas-pasan. Suatu hal yang saya sukar melupakan ialah dengan intensifnya interaksi para tamu seperti digambarkan itu, terbentuk pula suatu “komunitas” khusus secara spontan tanpa ada yang mensponsorinya. Meskipun “komunitas” ini didasari oleh kesamaan hobby (yang sebenarnya tidak patut untuk dibanggakan). “Komunitas” ini terdiri dari para “professional” dari berbagai belahan dunia, yang berkumpul secara spontan tanpa diundang hadir pada suatu tempat khusus di sekitar hotel Makarim, apalagi saat-saat selesai makan. Saking intensifnya pertemuan ini, muncul pula “gagasan” segar oleh sebagian anggota untuk menamai pertemuan rutin ini dengan “International Congres of Moslem Smokers”, yang anggotanya adalah orang-orang “khusus” (mungkin tepatnya : “orang berkeperluan khusus”), yang tidak saja terdiri dari sebagian jamaah calon haji tamu dari berbagai negara itu, akan tetapi juga dari panitia dan petugas hotel sendiri (just kidding lho!….tp itu berkesan juga), dan yang pasti, tidak ada suatu keputusan apapun yang dihasilkan dalam “kongres” icak-icak tersebut.


Hari-hari selanjutnya di Makarim Ummul Qura menjelang pelaksanaan wuquf terasa begitu melambat kami rasakan karena ketidaksabaran kami untuk segera melaksanakan ibadah haji (wuquf di ‘Arafah). Apalagi  pelaksanaan wuquf tahun ini bertepatan pada hari Jum’at, yang menurut sementara pendapat disebut sebagai Haji Akbar. Suatu kesempatan berhaji yang sangat langka untuk didapatkan, bahkan menurut sebagian ulama Haji Akbar dianggap sebagai yang memiliki beberapa keutamaan.

Meskipun tidak diberitahukan sebelumnya melalui jadwal, namun panitia ternyata sudah mempersiapkan beberapa agenda ziarah ke tempat-tempat tertentu untuk mengisi kekosongan kegiatan pada waktu siang. Perjalanan ziarah pertama dilaksanakan pada hari Senin tanggal 29 September (4 Dzulhijjah 1435 H) diawali dengan kunjungan ke Museum Haramayn “Ri`asah al-‘Aamah li Syu`uni al Masjidi al-Haram wa al-Masjid an-Nabawy”, sebuah lembaga yang menangani hal-hal yang menyangkut urusan pengembangan Masjidil Haram dan Masjid Nabawy. Di Lembaga ini juga terdapat museum Haramayn dimana kita bisa menyaksikan semua alat dan kelengkapan yang pernah digunakan di kedua  masjidil haram tersebut, seperti : pintu Ka’bah yg digunakan sejak awal berikut kiswahnya, kerangka sumur Zamzam, kerangka Maqam Ibrahim,  mimbar Masjid Nabawy, maket pengembangan kedua masjid tersebut, serta peninggalan-peninggalan lainnya. Di bagian lain dapat pula disaksikan proses pengerjaan kiswah (kain penutup) Ka’bah, mulai perancangan kaligrafi hingga penyulaman kiswah tersebut oleh tenaga-tenaga sangat profesional dan yang khusus ditugaskan untuk itu.



Esoknya Selasa 30 September kami dibawa mengunjungi Museum “Assalamu’alaika Ayyuhan Nabiy” sebuah museum yang baru diresmikan setahun yang lalu. Museum ini disamping memuat segala hal yang menyangkut kehidupan pribadi Rasulullah SAW sejak kelahiran hingga wafatnya, benda-benda peninggalan properti Rasulullah, dan replika situs Beliau bersama keluarga dan para shahabat serta berbagai catatan yang komplit tentang kehidupan keseharian Rasulullah SAW. Itu semua dilengkapi dengan tayangan apik teknologi multimedia yang terbilang mutaakhir. Sehingga dari pintu masuk hingga ke pintu keluar, para pengunjung seperti diajak berwisata menelusuri kehidupan Rasulullah SAW, bahkan kita seperti merasakan kehadiran Rasul sendiri. Dari informasi yang disampaikan konon dihabiskan waktu l.k. 10 tahun pengolahan museum canggih seperti ini dengan melibatkan para pakar, ulama dan para muhadditsin dan dilanjutkan dengan perancangan dan pengolahan display data dan deorama oleh pakar-pakar multimedia. Bahkan semua arsip pengerjaan, yang terdiri dari catatan-catatan, manuskrip, dan semua fasilitas yang digunakan seperti pena, lem, tinta, pisau dan sebagainya yang digunakan untuk pengolahan data museum ini disimpan secara rapi dan dipajang pada step akhir “perjalanan wisata” yang dipamerkan pada museum ini….sangat menakjubkan!, wa hadza min fadhli Rabby.




Masih di hari-hari menunggu wukuf ‘Arafah yang waktu-waktu terasa melambat dengan ketiadaan kegiatan ziarah. Panitia sengaja mengosongkan kegiatan untuk memberi kesempatan kepada semua tamu supaya dapat dimanfaatkan untuk persiapan fisik. Tidak ada kegiatan keluar pada diwaktu siang, kecuali shalat Zhuhur dan ‘Ashar di Mushalla hotel Makarim diselingi beberapa kegiatan tadarrusan dan ceramah ringan oleh para ustaz yang sudah dipersiapkan, sedangkan pada malamnya ke Masjidil Haram seperti malam-malam sebelumnya yang diatur secara bebas oleh masing-masing tamu.

Pagi Kamis 2 Oktober semua tamu bersiap-siap untuk berangkat ke ‘Arafah untuk pelaksanaan Haji. Saya dan semua tamu lainnyapun mengemas barang-barang untuk persiapan keberangkatan ke ‘Arafah. Agar pelaksanaan ibadah haji nantinya tidak terganggu dengan barang bawaan yang banyak, maka untuk para tamu sudah dipersiapkan sebuah tas tentengan khusus yang seragam dan tidak terlalu besar untuk mengemas keperluan di Arafah hingga Mina nantinya. Kamipun hanya membawa pakaian seperlunya serta beberapa keperluan mandi yang memang sudah disediakan oleh panitia bersama tas tentengan itu. Selain itu, menjelang keberangkatan ke ‘Arafah panitia melengkapi semua jama’ah tamu masing-masing sebuah handphone Nokia Asha 505 touchscreen lengkap dengan simcard Saudi yang sudah terisi pulsa 50 real (lk. Rp.150.000).  Fasilitas yang disebut terakhir ini sudah tentu bertujuan untuk memudahkan komunikasi antar jamaah tamu dan panitia saat pelaksanaan ibadah haji ‘Arafah nantinya. Meskipun semua jam’ah membawa handphone, namun bagi jamaah, gadget ini tentu memiliki kenangan tersendiri serta dapat dimanfaatkan untuk berbagai komunikasi lainnya dalam jangka panjang, bahkan saat kembali ke tanah air nantinya…alhamdulillah.

Setelah semua persiapan ke ‘Arafah selesai, maka ba’da Zhuhur saya dan jamaah tamu lainnya sudah memakai pakaian ihram untuk pelaksanaa ibadah haji. Kami menunggu keberangkatan di lobby hotel, sementara sebagian yang lain sudah ada yang mulai mengatur bagasi.  Agaknya antrian menaiki buspun diatur sedemikian rupa sesuai dengan negara asal masing-masing.

Setidaknya ada 26 buah bus jama’ah tamu kerajaan yang berangkat dari Hotel Makarim secara bersamaan menuju ‘Arafah. Masing-masing tamu ditentukan nomor bus masing-masing yang tidak boleh bertukar-tukar selama pelaksanaan haji ‘Arafah hingga Mina. Untuk itu ID Card masing-masing ditempeli nomor bus yang akan digunakan agar tidak terjadi kekeliruan menaiki bus, karena karoseri dan warnanya semua memang sama...... (baca lanjutannya..... klik di sini)

© Irhash A. Shamad
Memuat...
 
Support : Pandani Web Design
Copyright © 2009-2014. Irhash's Cluster - All Rights Reserved
Template Created by Maskolis
Proudly powered by Blogger