TERBARU

Irhash Gallery : "Jalla Jalalah 4"

Written By ClustAdmin on 13 Oktober 2015 | 11.33



Irhash 2015 : "Jalla Jalala 4", oil on canvas, mix media (70 x 70 cm.)


Irhash Gallery : "Jalla Jalalah 3"

Written By ClustAdmin on 11 Oktober 2015 | 14.14


Irhash 2015 : "Jalla Jalalah 3", oil on canvas, mix media (70 x 70 cm.)

Album : Forum Dekan dan Asosiasi Dosen Fakultas Adab dan Humaniora

Written By ClustAdmin on 20 Juni 2015 | 02.08



Forum Dekan Fakultas Adab UIN/IAIN/STAIN se-Indonesia 2007 di Jakarta


     Forum Dekan/ADIA Fakultas Adab UIN/IAIN/STAIN se-Indonesia 2008 di Aceh Darussalam 









Album : Fakultas Ilmu Budaya-Adab

"Hadza Min Fadhli Rabby" : Pengalaman Haji Atas Undangan Raja Saudi Arabia 2014 (Bagian 5)

Written By ClustAdmin on 01 Maret 2015 | 05.17



Lewat  jam 02.00 dini hari perjalanan dilanjutkan ke Mina. Semua rombongan kembali menaiki bus masing-masing, dan caravan kamipun menyusuri jalan padat menuju Mina yang penuh dengan para jama’ah layaknya hijrah massal. Mendekati shubuh barulah rombongan memasuki Mina, karena konvoi kendaraan kami tidak bisa bergerak dengan cepat. Sesampai di Mina kami para jamaah tamu ditempatkan di beberapa tenda dalam satu komplek khusus di pinggiran jalan masuk lantai 1 dan 2 Jamaraat, atau tepatnya berseberangan jalan dengan masjid Al-Khaif. Komplek tenda jamaah tamu yang hanya berjarak l.k. 500 meter dari jumratul uula ini memiliki fasillitas sama dengan yang terdapat pada tenda-tenda yang ditempati di Arafah, kecuali hanya tidak memiliki ruang terbuka yang cukup, yang ada hanya gang-gang diantara tenda-tenda. Begitu keluar komplek tenda langsung berhubungan dengan jalan masuk jamaraat lantai 1 dan 2. 



Tanpa mengambil istirahat, sesudah shalat shubuh kamipun langsung menuju jamaraat untuk melempar jumrah ‘AqabahBagi saya yang pertama kali menjalankan ibadah haji, sebelumnya hanya cerita yang baru saya ketahui tentang  Jamaraat.  Jamaraat adalah simbol syetan yang mengganggu Nabi Ibrahim sewaktu akan menjalankan perintah Allah saat Nabi Ibahim akan menyembelih anak kesayangannya Ismail atas perintah Allah, karena itulah umat Islam kemudian disyariatkan pula untuk melempar  jamaraat yang tiga itu sebagai simbol perlawanan terhadap syetan yang selalu menggoda manusia agar mengingkari syariat Allah SWT. Semula dugaan saya simbol itu tak lebih dari sebuah simbol, begitu juga jamaraat yang menjadi simbol syethan musuh manusia.
Pengalaman pertama di jamaraat ini, terutama sewaktu melalui jumrah uula untuk mencapai jumrah ‘aqabah, bulu kuduk saya tiba-tiba merinding, dan sangat merinding entah kenapa?… mungkinkah hanya saya yang merasakannya?, karena saya melihat orang-orang lain yang berdesakan melempar jumrah itu nampaknya biasa-biasa saja. Begitu jelas ditelinga saya terdengar suara raungan nyaring dan sengau mengiringi gemuruh keramaian jamaah, entah dari mana asalnya, namun yang pasti itu bukan raungan biasa. Saya mencoba untuk memilah pendengaran saya antara gemuruh dan pekikan sengau tersebut, karena mungkin saja itu efek akustik dari gemuruh suara keramaian, namun itupun tidak relevan. Setelah melewati jumrah uula, saya mencoba kembali mengamati suara nyaring itu, saya sengaja berdiam sejenak untuk kembali memilah antara suara gemuruh dan raungan nyaring itu, namun tetap masih terdengar dan menakutkan. Subhanallah, saya benar-benar merinding saat ini, keringatpun membasahi hampir seluruh tubuh saya, dan terasa gemetar seluruh persendian, karena semakin saya fokus pada suara aneh itu, semakin nyaring saja terdengar. Ingin saya memastikan melalui teman sesama jamaah tamu yang semula bersama saya ke jamaraat, namun ia tidak lagi kelihatan dan mungkin sudah lebih dulu ke jumrah ‘aqabah. Kemudian sayapun menuju jumrah ‘aqabah untuk menyelesaikan rukun haji, meski suara itu tetap terdengar. Saya berusaha untuk tidak emosional dalam melempar sesuai yang saya ketahui sebelumnya, dan sayapun tidak larut memikirkan suara aneh tadi dalam melempar. Mungkinkah itu suara pekikan syethan yang sedang dilempari beramai-ramai yang diperdengarkan kepada saya, ataukah hanya halusinasi semata? Wallahu a’lamu bish-shawab.      
Setelah ramyu di jumrah, saya selanjutnya kembali ke tenda untuk mencukur rambut supaya bisa secepatnya tahallul agar kami dapat melepas pakaian ihram. Semula saya menduga bercukur harus dilakukan sendiri-sendiri, karena itu selesai melempar jumrah ‘aqabah begitu sampai di jalan keluar jamaraat banyak sekali ditemukan barbershop untuk bercukur bagi para jama’ah yang ingin tahallul. Saya semula akan bercukur di salah satu barbershop itu, namun karena ramainya antrian, niat itu saya batalkan. Saya bersama salah seorang teman dari Manado yang bertemu saat keluar jamaraat, kemudian pulang ke tenda untuk bercukur bersama jama’ah yang lain.
Di tenda-tenda jamaah tamu, sebenarnya sudah disediakan  beberapa tukang cukur, akan tetapi tidak sedikit juga diantara jamaah saling cukur dengan cara masing-masing. Sayapun mencoba untuk bercukur bergantian dengan salah seorang jamaah dari Thailand. Dengan modal gunting dan satu cermin kecil, maka saya mencoba mengunting rambutnya secara berangsur hingga pendeknya merata dan rapi sesuai keinginannya. Akan tetapi ketika giliran dia menggunting rambut saya, saya meminta agar tidak terlalu pendek, tapi cukup sisakan 2 cm merata. Kami tidak menggunakan kaca depan dan belakang untuk mengontrol hasil guntingan itu, kecuali hanya sebuah kaca cermin di depan. Selebihnya adalah rasa saling percaya saja. Maka selesailah satu sesi yang memungkinkan kami dapat melepas pakaian ihram.
Apa yang kemudian saya ketahui di sore harinya adalah ternyata rambut bagian belakang saya digunting tidak karuan, belang-belang, bergaris-garis, dan sebagian tebal sebagian begitu tipis bahkan kurang dari setengah sentimeter. Hal ini saya ketahui setelah mencoba memotret bagian belakang kepala dengan menggunakan handphone, wadouhh!…. tidak dapat saya bayangkan betapa itu memalukan, karena ini kepala sudah saya bawa kemana-mana keluar tenda pada waktu siangnya. Lebih herannya lagi, tidak satupun diantara jama’ah tamu lain mengingatkan saya tentang hal ini. Karena itu saya segera mencari pertolongan  kepada salah seorang  jamaah, kalau-kalau ada yang membawa mesin potong  rambut untuk merapikan rambut saya, dan alhamdulillah dengan batuan salah seorang jamaah dari Indonesia menjelang maghrib rambut saya sudah dirapikan secara merata sesuai ukuran terpendek hasil karya teman Thailand saya itu, meskipun terpaksa harus plontos, dan tidak seperti yang saya inginkan semula,….. namun,  ini menjadi pengalaman plontos kedua bagi saya sesudah plontos untuk perpeloncoan waktu masuk perguruan tinggi lebih dari 30 tahun yang lalu.



Sesuai penjadwalan panitia, kami jamaah tamu kerajaan hanya mengambil Nafar Awal, oleh karenanya mabit di Mina sampai hari kedua tasyriq. Hari ini kami jamaah tamu secara berombongan berangkat ke jamaraat untuk melempar ketiga jumrah untuk kemudian langsung meninggalkan Mina. Semua tas dikumpulkan untuk di bawa langsung ke Madinah, sementara semua jamaah kembali ke Makkah untuk menunaikan thawaf ifadah. Selesai melempar jumrah ‘Aqabah seyogianya di luar area sudah menunggu bus-bus kerajaan yang akan membawa kami kembali ke hotel, namun karena kemacetan lalu lintas Mina dan Makkah, bus kami terpaksa menunggu kurang lebih 3 km dari Mina. Karena itu kami harus berjalan kaki ke tempat bus tersebut. Kali ini saya benar-benar merasakan berhaji yang sesungguhnya, berbaur bersama jamaah yang bermacam ragam dan berjalan di panas terik dengan suhu yang sangat tinggi. Saya merasakan bagaimana berebutan air mineral yang dibagikan dari atas truk serta semprotan dari truk-truk air untuk membantu kelembaban udara, serta menghayati bagaimana hausnya kafilah yang menyusuri padang pasir di panas terik.  Meskipun kami berjalan diatas jalan beraspal yang panas dan menyisir banyak sekali kendaraan yang terpaksa parkir karena macet, namun ini cukup menjadi pengalaman yang berharga.
Sesampai di hotel semua jamaah beristirahat menunggu maghrib untuk kemudian menyelesaikan rukun terakhir pelaksanaan ibadah haji ini, yaitu thawaf ifadhah. Pelaksanaan thawaf ifadhah di Masjidil Haram diserahkan kepada masing-masing jamaah. Saya dengan beberapa orang berangkat ke Masjidil Haram setelah maghrib dan menyelesaikan thawaf dan sa’i hingga jam 10.00 WSA. Dengan demikian setelah tahallul tsani, berakhirlah pelaksanaa ibadah haji dengan harapan kiranya semua rangkaian ibadah ini diterima Allah SWT sebagai hajjan mabruran, wa sa’iyan masykuuran wa zanban maghfuuran, wa tijaaratan lan tabuuran……aamiiin....  (bersambung.....)
© Irhash A. Shamad

"Hadza Min Fadhli Rabby" : Pengalaman Haji Atas Undangan Raja Saudi Arabia 2014 (Bagian 4)

Written By ClustAdmin on 15 Februari 2015 | 20.17





Jam 16.00 WSA sore, iring-iringan rombongan bus jama’ah tamu kerajaan sampai di ‘Arafah. Masing-masing telah disediakan tenda sesuai negara dan wilayah regional masing-masing. Kami jama’ah tamu dari Indonesia ditempatkan satu tenda dengan Malaysia dan Philipina. Tenda-tenda yang cukup besar untuk menampung jamaah ini berada pada blok  tersendiri. Di sini fasilitas untuk jama’ah sangat memadai, tersedia tenda yang berfungsi sebagai masjid, tenda ruang makan, restoran, klinik pengobatan, MCK serta fasilitas umum lainnya.


Kenyamanan lingkungan blok ini lebih dirasakan dengan adanya pohon-pohon pelindung serta pekarangan yang seluruhnya ditutupi dengan karpet rumputan berwarna hijau, meski dengan rerumputan artifisial, namun cukup menimbulkan kesan yang sejuk. Suasana di dalam tenda juga tidak kurang kenyamanannya. Satu tenda besar yang ditempati oleh l.k. 100 orang mungkin terkesan sumpek dan gerah, namun karena masing-masing tenda juga dilengkapi dengan air conditioner (AC) yang cukup, sehingga suasana didalamnya cukup sejuk. Semua tenda-tenda itu juga dilengkapi dengan kasur dan selimut untuk setiap jama’ah tamu. Dengan demikian pelaksanaan ibadah dan zikir jama’ah didalamnya dapat dilakukan dengan lebih khusyu’.
Demikian juga MCK tersedia cukup banyak sehingga hampir tidak memerlukan waktu untuk antrian, namun yang sedikit agak perlu menyesuaikan adalah air wudhu’ dan air mandi yang tersedia cukup panas menurut ukuran biasa, sehingga setiap kali  sehabis mandi dan wudhu’ tidak terasa segar. Makanan serta minuman yang disediakan khusus untuk jamaah tamu ditempatkan pada satu tenda khusus. Tidak ada kesan “darurat” dalam pelayanan makanan dan minuman,  bahkan juga dalam penyajiannya. Semua itu persis sama dengan pelayanan yang ada di hotel, termasuk variasi menu yang disediakan, yang berbeda hanyalah tidak tersedianya kursi dan meja untuk makan. Soal yang terakhir ini yang sedikit berkesan “darurat” ; para tamu dipersilakan mencari sendiri tempat duduk, apakah di tenda masing, di taman-taman atau di gang-gang antara tenda yang memang sudah dialasi karpet hijau, apalagi pula terdapat banyak pohon pelindung.
Apa yang dikemukakan tentu dapat dimaklumi. Bahkan menurut saya, pengalaman spritual ibadah haji sepatutnya benar-benar menjadi ‘napak tilas’ pelaksanaan haji Rasulullah SAW,  paling tidak segala duka dan kesulitan di masa itu dapat dihayati. Saat pikiran saya mencoba untuk membayangkan realitas masa Rasulullah, rasanya apa yang kami alami dalam pelaksanaan haji kali ini sudah terlalu “mewah”, bahkan terkadang hati kecil saya seperti merasa tidak sempurna dan kurang afdhal saja  pelaksanaan ibadah haji ini, meski tetap berharap tidak akan kurang nilainya di mata Allah SWT.
Kami jamaah tamu mendengarkan khutbah Arafah pada Jum’at 03 Oktober di dalam tenda yang dikhususkan untuk masjid. Khutbah Arafah hanya kami saksikan melalui layar monitor. Untuk setiap negara-negara ‘ajam (yang tidak berbahasa Arab) masing-masing  dibantu oleh seorang interpreter yang bertugas menterjemahkan isi khutbah kepada bahasa masing-masing. Lautan manusia yang mendengarkan khutbah Arafah di lapangan hanya dapat disaksikan lewat monitor. Dalam hati,  saya rasanya mau protes kenapa kami tidak diberi pengalaman menyatu dengan umat muslim yang banyak itu saat ini? ; seyogianya di saat saat seperti inilah kami dapat merasakan “padang mahsyar” dunia itu, karena saat ini semua jamaah haji dari seluruh dunia berkumpul pada satu titik dan detik secara bersamaan….betapa indahnya. Namun apa hendak dikata, semua kami tunduk pada aturan-aturan yang menjadi ketetapan penyelenggara yang mengurus penyelenggaraan haji tamu Khadim Haramayn ini. 

Selesai shalat jum’at, saat saat dimana wuquf di mulai, para jamaah mencari tempat masing-masing secara bebas untuk berzikir dan berdo’a menjelang terbenamnya matahari ; ada yang kembali ke tenda, ada yang mengambil tempat dipojok-pojok tenda, tetapi saya dan salah seorang teman dari Jawa Barat sengaja mengambil tempat di luar tenda, persisnya di tempat yang agak jauh dari tenda, Ini sengaja kami lakukan untuk sedikit merasakan panasnya suhu padang Arafah, meski tidak kena matahari langsung, namun cukup untuk sedikit menghayati padang Arafah dalam arti yang sesungguhnya.  Do’a-do’a wuquf yang melantun di tengah suhu seperti ini terasa lebih menjiwai, karenanya kesempatan wuquf ini saya gunakan sebaik-baiknya untuk tidak saja mewiridkan zikir dan do’a seperti yang diajarkan Rasulullah, tetapi do’a-do’a dan segala ‘pengaduan’ atas segala hal yang telah berlaku dalam kehidupan saya dan semua keluarga saya, baik suka maupun duka yang telah kami  alami selama ini, segala alpha dan kelemahan diri yang disesali. Terasa betapa ‘malu’ diri ini dihadapanNya atas semua itu, dan betapa kecilnya diri ini dan bahkan rasanya kurang pantas untuk berharap kehadiratNya, mengingat belum sempurnanya segala kewajiban tertunai sesuai syari’atNya, dan betapa terlalu banyak karunia dan kasih sayangnya yang telah dicurahkanNya kepada saya dan keluarga yang kadang tanpa kesyukuran yang berarti dari kami yang tak tahu diri…..betapa berdosanya diri ini kurasakan!. Konflik batin ini kurasakan tak ubahnya bagai pengadilan “mahsyar” atas diri saya sendiri. Tak sedikit air mata yang tercurah mengiringi “ratapan” dan do’a-do’a itu, hingga terleraikan oleh waktu ‘Ashar. Setelah shalatpun semua itu terulang kembali hingga saatnya kami bersiap-siap untuk diberangkatkan ke Mudzdalifah saat mata hari terbenam.


Kami berangkat ke Mudzdalifah pada saat menjelang maghrib dengan manaiki bus-bus tamu kerajaan yang memang telah standby di luar area sesuai dengan nomor bus yang ditentukan sedari awal. Membayangkan caravan onta Rasulullah dulu, bus-bus kamipun bergerak ke Mudzdalifah di tengah keramaian umat dengan berbagai macam jenis kendaraan, bahkan ada diantaranya yang berjalan kaki, sesekali saya berfikir alangkah lebih afdhalnya ibadah mereka yang benar-benar merasakan perjalanan malam ke Mudzdalifah tanpa menggunakan kendaraan itu.
Jarak antara Arafah dan Mudzdalifah tidaklah begitu jauh, namun masa tempuhnya begitu lama, karena bus kami tidak bisa bergerak cepat akibat ramainya lalu lintas pada waktu ini.  Lebih kurang jam 10.00 WSA malam, kami sampai di Mudzdalifah. Bus-bus jamaah tamu yang seragam ini berjejer disepanjang jalan Jawhara. Kami semua turun untuk mabit dengan terlebih dahulu shalat Maghrib dan Isya’ yang dijama’ serta memungut kerikil-kerikil yang akan digunakan nanti di jamarat. Begitu bus-bus kami berhenti, panitia langsung membentangkan beberapa permadani di jalanan diantara bus-bus tersebut, agar para jamaah dapat melaksanakan shalat, berzikir dan berdoa selama mabit, dan menunggu saat-saat perjalanan dilanjutkan ke Mina menjelang Shubuh............
(baca lanjutannya..... klik di sini)

© Irhash A. Shamad

"Hadza Min Fadhli Rabby" : Pengalaman Haji Atas Undangan Raja Saudi Arabia 2014 (Bagian 3)

Written By ClustAdmin on 13 Februari 2015 | 22.29



Hari-hari menjelang wukuf (Haji), hanya diisi dengan kegiatan ibadah malam di Masjidil Haram, karena waktu-waktu siangnya kami lebih memilih berada di hotel, karena suhu pada waktu siang sangat begitu menyengat. Untuk ibadah malam ini memang diatur sendiri-sendiri, kadang saya berangkat sebelum Maghrib dan pulang setelah Isya untuk makan malam dan kembali lagi jam 03.00 hingga Shubuh, dan tak jarang juga ke Masjidil Haram sebelum Isya dan pulangnya pagi. Tidak ada pengaturan oleh panitia menyangkut ibadah, kecuali transportasi yang selalu tersedia, juga hidangan makan, snack malam serta buah-buahan yang selalu ada. Bagi saya, pelayanan jamaah tamu ini dirasakan sangat luar biasa, karena benar-benar memberi kemudahan dan sangat menyenangkan. Suatu hal yang sangat berkesan pula adalah pada saat setiap keluar dan masuk hotel selalu disambut dengan tuangan air zamzam dan hidangan kurma oleh petugas yang khusus untuk itu. Namun ada satu hal yang selalu harus kami ingat setiap akan keluar hotel, yaitu memakai ID Card Haji Undangan Khadim Haramayn yang telah diberikan kepada kami sewaktu tiba di Makkah. ID Card itu harus selalu terpasang di dada. Kalau suatu saat kelupaan dan tidak bisa menunjukkan kepada petugas, maka kami akan kesulitan untuk masuk ke hotel. Petugas security sangat ketat dan tegas pada tamu-tamu yang tidak memiliki ID Card, namun juga sangat ramah untuk ukuran petugas security, mereka bahkan juga tak segan-segan melayani dan membantu pada saat tamu memerlukannya, meskipun itu bukan tugas mereka.

Demikianlah hari-hari di hotel Makarim. Sesekali bercengkrama dengan petugas, dengan tamu yang berbeda negara, begitu juga dengan panitia, sungguh mengasyikkan juga, meski dengan bahasa yang pas-pasan. Suatu hal yang saya sukar melupakan ialah dengan intensifnya interaksi para tamu seperti digambarkan itu, terbentuk pula suatu “komunitas” khusus secara spontan tanpa ada yang mensponsorinya. Meskipun “komunitas” ini didasari oleh kesamaan hobby (yang sebenarnya tidak patut untuk dibanggakan). “Komunitas” ini terdiri dari para “professional” dari berbagai belahan dunia, yang berkumpul secara spontan tanpa diundang hadir pada suatu tempat khusus di sekitar hotel Makarim, apalagi saat-saat selesai makan. Saking intensifnya pertemuan ini, muncul pula “gagasan” segar oleh sebagian anggota untuk menamai pertemuan rutin ini dengan “International Congres of Moslem Smokers”, yang anggotanya adalah orang-orang “khusus” (mungkin tepatnya : “orang berkeperluan khusus”), yang tidak saja terdiri dari sebagian jamaah calon haji tamu dari berbagai negara itu, akan tetapi juga dari panitia dan petugas hotel sendiri (just kidding lho!….tp itu berkesan juga), dan yang pasti, tidak ada suatu keputusan apapun yang dihasilkan dalam “kongres” icak-icak tersebut.


Hari-hari selanjutnya di Makarim Ummul Qura menjelang pelaksanaan wuquf terasa begitu melambat kami rasakan karena ketidaksabaran kami untuk segera melaksanakan ibadah haji (wuquf di ‘Arafah). Apalagi  pelaksanaan wuquf tahun ini bertepatan pada hari Jum’at, yang menurut sementara pendapat disebut sebagai Haji Akbar. Suatu kesempatan berhaji yang sangat langka untuk didapatkan, bahkan menurut sebagian ulama Haji Akbar dianggap sebagai yang memiliki beberapa keutamaan.

Meskipun tidak diberitahukan sebelumnya melalui jadwal, namun panitia ternyata sudah mempersiapkan beberapa agenda ziarah ke tempat-tempat tertentu untuk mengisi kekosongan kegiatan pada waktu siang. Perjalanan ziarah pertama dilaksanakan pada hari Senin tanggal 29 September (4 Dzulhijjah 1435 H) diawali dengan kunjungan ke Museum Haramayn “Ri`asah al-‘Aamah li Syu`uni al Masjidi al-Haram wa al-Masjid an-Nabawy”, sebuah lembaga yang menangani hal-hal yang menyangkut urusan pengembangan Masjidil Haram dan Masjid Nabawy. Di Lembaga ini juga terdapat museum Haramayn dimana kita bisa menyaksikan semua alat dan kelengkapan yang pernah digunakan di kedua  masjidil haram tersebut, seperti : pintu Ka’bah yg digunakan sejak awal berikut kiswahnya, kerangka sumur Zamzam, kerangka Maqam Ibrahim,  mimbar Masjid Nabawy, maket pengembangan kedua masjid tersebut, serta peninggalan-peninggalan lainnya. Di bagian lain dapat pula disaksikan proses pengerjaan kiswah (kain penutup) Ka’bah, mulai perancangan kaligrafi hingga penyulaman kiswah tersebut oleh tenaga-tenaga sangat profesional dan yang khusus ditugaskan untuk itu.



Esoknya Selasa 30 September kami dibawa mengunjungi Museum “Assalamu’alaika Ayyuhan Nabiy” sebuah museum yang baru diresmikan setahun yang lalu. Museum ini disamping memuat segala hal yang menyangkut kehidupan pribadi Rasulullah SAW sejak kelahiran hingga wafatnya, benda-benda peninggalan properti Rasulullah, dan replika situs Beliau bersama keluarga dan para shahabat serta berbagai catatan yang komplit tentang kehidupan keseharian Rasulullah SAW. Itu semua dilengkapi dengan tayangan apik teknologi multimedia yang terbilang mutaakhir. Sehingga dari pintu masuk hingga ke pintu keluar, para pengunjung seperti diajak berwisata menelusuri kehidupan Rasulullah SAW, bahkan kita seperti merasakan kehadiran Rasul sendiri. Dari informasi yang disampaikan konon dihabiskan waktu l.k. 10 tahun pengolahan museum canggih seperti ini dengan melibatkan para pakar, ulama dan para muhadditsin dan dilanjutkan dengan perancangan dan pengolahan display data dan deorama oleh pakar-pakar multimedia. Bahkan semua arsip pengerjaan, yang terdiri dari catatan-catatan, manuskrip, dan semua fasilitas yang digunakan seperti pena, lem, tinta, pisau dan sebagainya yang digunakan untuk pengolahan data museum ini disimpan secara rapi dan dipajang pada step akhir “perjalanan wisata” yang dipamerkan pada museum ini….sangat menakjubkan!, wa hadza min fadhli Rabby.




Masih di hari-hari menunggu wukuf ‘Arafah yang waktu-waktu terasa melambat dengan ketiadaan kegiatan ziarah. Panitia sengaja mengosongkan kegiatan untuk memberi kesempatan kepada semua tamu supaya dapat dimanfaatkan untuk persiapan fisik. Tidak ada kegiatan keluar pada diwaktu siang, kecuali shalat Zhuhur dan ‘Ashar di Mushalla hotel Makarim diselingi beberapa kegiatan tadarrusan dan ceramah ringan oleh para ustaz yang sudah dipersiapkan, sedangkan pada malamnya ke Masjidil Haram seperti malam-malam sebelumnya yang diatur secara bebas oleh masing-masing tamu.

Pagi Kamis 2 Oktober semua tamu bersiap-siap untuk berangkat ke ‘Arafah untuk pelaksanaan Haji. Saya dan semua tamu lainnyapun mengemas barang-barang untuk persiapan keberangkatan ke ‘Arafah. Agar pelaksanaan ibadah haji nantinya tidak terganggu dengan barang bawaan yang banyak, maka untuk para tamu sudah dipersiapkan sebuah tas tentengan khusus yang seragam dan tidak terlalu besar untuk mengemas keperluan di Arafah hingga Mina nantinya. Kamipun hanya membawa pakaian seperlunya serta beberapa keperluan mandi yang memang sudah disediakan oleh panitia bersama tas tentengan itu. Selain itu, menjelang keberangkatan ke ‘Arafah panitia melengkapi semua jama’ah tamu masing-masing sebuah handphone Nokia Asha 505 touchscreen lengkap dengan simcard Saudi yang sudah terisi pulsa 50 real (lk. Rp.150.000).  Fasilitas yang disebut terakhir ini sudah tentu bertujuan untuk memudahkan komunikasi antar jamaah tamu dan panitia saat pelaksanaan ibadah haji ‘Arafah nantinya. Meskipun semua jam’ah membawa handphone, namun bagi jamaah, gadget ini tentu memiliki kenangan tersendiri serta dapat dimanfaatkan untuk berbagai komunikasi lainnya dalam jangka panjang, bahkan saat kembali ke tanah air nantinya…alhamdulillah.

Setelah semua persiapan ke ‘Arafah selesai, maka ba’da Zhuhur saya dan jamaah tamu lainnya sudah memakai pakaian ihram untuk pelaksanaa ibadah haji. Kami menunggu keberangkatan di lobby hotel, sementara sebagian yang lain sudah ada yang mulai mengatur bagasi.  Agaknya antrian menaiki buspun diatur sedemikian rupa sesuai dengan negara asal masing-masing.

Setidaknya ada 26 buah bus jama’ah tamu kerajaan yang berangkat dari Hotel Makarim secara bersamaan menuju ‘Arafah. Masing-masing tamu ditentukan nomor bus masing-masing yang tidak boleh bertukar-tukar selama pelaksanaan haji ‘Arafah hingga Mina. Untuk itu ID Card masing-masing ditempeli nomor bus yang akan digunakan agar tidak terjadi kekeliruan menaiki bus, karena karoseri dan warnanya semua memang sama...... (baca lanjutannya..... klik di sini)

© Irhash A. Shamad

"Hadza Min Fadhli Rabby" : Pengalaman Haji Atas Undangan Raja Saudi Arabia 2014 (Bagian 2)

Written By ClustAdmin on 11 Februari 2015 | 01.27


Tepat jam 07.00 WSA (atau jam 11.00 pada jam saya) pesawat SaudiAirline yang membawa kamipun  mendarat di King Abdul Aziz Airport Jeddah, para jamaah undangan ini langsung disambut oleh panitia yang sepertinya sudah disiapkan khusus. Setelah menyelesaikan urusan imigrasi Bandara yang secara kolektif juga dibantu oleh panitia, para jamaah undangan diminta untuk mengumpulkan passport masing-masing dan menyerahkan kepada panitia penyambutan. Setelah itu kami dibawa menuju tempat makan malam di sebuah restoran Bandara KAA. Di sini, kami mulai merasakan betapa protein dalam sajian ala Saudi adalah sesuatu yang sangat penting, sepiring nasi (pulen dengan minyak samin tentunya) dengan lauk sepotong ayam yang ukurannya sangat luar biasa untuk ukuran Indonesia, serta sayur mayur dan buah juga minuman kaleng tersaji untuk kami. Betapapun protein dengan ukuran luar biasa itu, namun karena aroma dan rasa yang mendekati ayam bakar Indonesia telah ‘memaksa’ saya menghabiskan potongan ayam itu tanpa nasi, karena nasi pulen dengan minyak samin yang belum terbiasa di lidahku.
Setelah hidangan makan malam itu kamipun bergerak keluar terminal kedatangan. Beberapa bis khusus tamu kerajaan telah pula dipersiapkan di terminal kedatangan bandara KAA untuk membawa kami menuju Makkah al-Mukarramah. Perjalanan darat dari Jeddah ke Madinah seharusnya ditempuh l.k. 1 jam 20 menit menjadi sedikit terlambat, karena ketatnya pemeriksaan menjelang masuk Kota Makkah. Meskipun bis yang digunakan serta penumpang yang ada didalamnya adalah tamu kerajaan, namun agaknya prosedur pemeriksaan tetap dilaksanakan seperti peziarah-peziarah lainnya di musim haji. Alhamdulillah jam 10.00 WSA saya bersama rombongan calon haji undangan Kerajaan akhirnya sampai di hotel Makarim Umm al-Qura yang memang sudah dipersiapkan untuk penginapan para calon haji tamu kerajaan selama di Makkah. Di lobby hotel kepada kami  masing-masing dibagikan ID Card khusus Haji tamu Raja Abdullah bin Abdul Aziz. Saya yang semula heran kenapa passport harus di kumpulkan dan dipegang oleh panitia penyambutan, saat inipun terjawab. Ternyata ID Card itulah yang menggantikan posisi passport, sekaligus sebagai jaminan pelayanan yang akan diberikan untuk kami selama berada di tanah suci.
Masih dalam pakaian ihram, saya dan jamaah undangan lainnya ke hotel hanya sekedar untuk memastikan kamar dan menaruh barang-barang bawaan, karena saat ini, meski sudah malam, keinginan untuk segera thawaf dan sa’i umrah malam ini juga ke Baitullah makin kuat. Walaupun saat ini terasa bahwa istirahat fisik sangat diperlukan menurut ukuran perjalanan yang telah ditempuh, namun saya dan beberapa orang lainnya seperti tidak sabar untuk segera ke Masjidil Haram. Ketidaksabaran itu telah melupakan rasa lelah dan mengantuk yg semula sangat dirasakan. Jarak hotel dengan Masjidil Haram kira-kira 1,5 km, dan itu sangat mungkin dilakukan dengan berjalan kaki saja, karena dugaan kami, panitia tentu belum menyediakan alat transportasi. Namun, rencana kepergian ini kemudian diketahui oleh pihak hotel, dan tanpa ha-hu (maksudnya konfirmasi sana-sini), mereka segera menyiapkan mobil hotel untuk kami yang akan ke Masjidil Haram. Petugas hotel bahkan menjelaskan, bahwa pihaknya telah menyiapkan beberapa mobil yang dapat digunakan oleh para tamu setiap saat kapan saja akan pergi dan pulang dari Masjidil Haram selama 24 jam, alhamdulillahi Rabb al-alamiin….haza min fadhly Rabby!
Menjelang tengah malam, kami memasuki masjidil haram yang sudah sangat penuh sesak oleh muthawwif. Kami semula berusaha untuk berkelompok lebih kurang 7 orang, namun di pusaran tempat thawaf, kelompok ini jadi terpisah satu persatu, akhirmya aku dan seorang teman dari Manado yang bertahan dapat bersama hingga putaran ke tujuh. Di setiap putaran kami berusaha untuk mendekati Ka’batullah agar, paling tidak, dapat mencium hajar aswad, namun hingga putaran ke tujuh hal itu tidak kunjung terjangkau akibat padatnya pusaran muthawwif.
Semenjak memasuki area Masjidil Haram hingga thawaf putaran ketujuh, energi saya terasa seperti dicharge. Biasanya dalam kondisi seperti ini, apalagi setelah menempuh perjalanan panjang, tanpa istirahat, akan terjadi penurunan energi yang luar biasa, namun begitu memasuki Masjidil Haram dan menyaksikan Ka’batullah, semua kelelahan itu tidak saya rasakan sama sekali, chemistry Baitullah seperti memberi energi tambahan dengan sangat luar biasa. Selasai thawaf saya segera mencari posisi untuk shalat sunat di tempat yang paling dekat dengan maqam Ibrahim, namun padatnya orang yang thawaf, terpaksa shalat sunat hanya bisa dilaksanakan di pelataran terluar tempat thawaf.
Di sujud terakhir shalat sunat inilah saya merasakan sesuatu yang sangat aneh pada diri saya. Memori saya seperti berputar kencang untuk menampilkan berbagai episode kehidupan pribadi saya, meski saat sujud hal itu saya biarkan berlalu, namun setelah duduk tahiyat akhir kurasakan banjir airmata yang tercurah begitu saja di pipiku…sungguh sangat tidak biasa!..entah berapa lama saya sujud tadi juga hampir saya tidak bisa mengingatnya, lalu kenapa begitu banyak airmata yang tercurah ketika saya sudah duduk kembali? wallahu a’lam.
Tanpa jeda setelah do’a-do’a di hadapan maqam Ibrahim, sayapun segera menuju mas’a (tempat sa’i) di bukit Shafa dan bukit Marwa. Meski tidak mudah berjalan diantara kerumunan orang-orang, apalagi di dekat Shafa, namun semangat untuk menyelesaikan ‘umrah tetap tinggi, pada hal sudah hampir jam 02.00 dinihari. Keringat pun terasa membasahi badan meski blower tempat sa’i tak henti menghembuskan hawa dingin, tapi energi ini, yang seharusnya sudah melorot, terasa tidak berkurang dan terus menggebu menyelesaikan sa’i hingga step ke tujuh, dan sa’ipun dapat diselesaikan menjelang jam 03.00 dinihari.

Selesai sa’i seharusnya setiap jama’ah ‘umrah menyembelih hewan sebagai hadyu untuk bisa tahallul, namun saya dan jamaah undangan lainnya agaknya tidak perlu memikirkan itu, karena sebelum keberangkatan sudah diberi tahu bahwa hewan sembelihan untuk hadyu akan dibayarkan oleh Raja. Dengan demikian selesai pelaksanaan sa’i ‘umrah saya dan jama’ah undangan lainnya dapat secara langsung tahallul tanpa harus memikirkan hadyu….. haza min fadhly Rabby!.
Setelah mengerjakan sa’i, saya seharusnya segera melakukan tahallul untuk bisa melepas pakaian ihram, namun saya tidak mempersiapkan gunting untuk melakukannya sendiri, karena itu, saya berusaha mencari-cari kalau ada jama’ah lain yang sedang tahallul. Sambil berjalan diantara kerumunan orang-orang di lorong keluar mas’a, saya berharap ada diantara jama’ah yang bisa dimintai tolong, akan tetapi hingga sampai ke pelataran luar masjidil haram saya tidak menemukannya. Akhirnya dengan berjalan di sela-sela arus keramaian jama’ah yang hendak shalat shubuh, saya mencoba berjalan lebih keluar pelataran untuk bertahallul, namun tetap sia-sia. Tanpa terfikir bahwa waktu shubuh sudah dekat, sayapun  memutuskan kembali ke hotel untuk bisa tahallul. Dengan dibantu oleh salah seorang staf hotel akhirnya tahallulpun dapat dilaksanakan, artinya ibadah ‘umrah pun selesai. Namun untuk melaksanakan shalat shubuh di Masjidil Haram sudah tidak memungkinkan karena seiring tahallul, azan shubuhpun sudah berkumandang, dan akhirnya saya shalat shubuh bersama di hotel setelah mengganti pakaian ihram dengan pakaian biasa.
Pagi Jum’at 26 September, saat berbaring untuk istirahat di kamar hotel pagi ini, masih muncul keinginan untuk segera ke Masjidil Haram lagi, tanpa menyadari bahwa sejak malam saya belum tidur semenitpun sejak keberangkatan dari Indonesia dan bahkan sampai di Mekkahpun langsung mengerjakan ‘umrah, padahal hari ini adalah hari Jum’at, dimana pada jam 10.00 juga akan ke Masjidil Haram untuk shalat jum’at, entah kenapa keinginan itu besar sekali. Namun setelah menyadari itu, saya paksakan untuk bisa tertidur barang sejam atau dua jam saja.  Akhirnya sayapun terbangun jam 10.00 dan setelah mendapatkan istirahat lebih dua jam, saya segera mempersiapkan diri berangkat ke masjidil haram untuk melaksanakan shalat jum’at.
Semula saya memperkirakan bahwa pada jam ini tentu Masjidil Haram masih belum ramai, jadi bisa mengambil tempat lebih dekat ke Ka’batullah. Namun kenyataannya tidak sesuai dengan perkiraan. Jama’ah shalat jum’at sudah melimpah ke luar dari pelataran luar Masjidil Haram, bahkan untuk mencapai pelataran luar saja saya tidak sanggup karena padatnya jama’ah. Akhirnya terpaksa  memutuskan untuk shalat di pinggiran jalan masuk pelataran luar, dan itupun sudah sangat berdesak-desakan di tengah teriknya matahari dan suhu yang sangat tinggi (l.k.44 °C), namun saya maupun jamaah lainnya hampir-hampir tidak menghiraukannya.
Hari ini tamu hotel Makarim Ummul Qura makin bertambah dengan datangnya rombongan tamu dari negara-negara lain yang satu persatu check in di hotel ini. Mereka semua adalah calon haji undangan Kerajaan yang sama dengan kami. Di sore hari kedua ini, tidak banyak kegiatan yang dilakukan, kecuali berusaha berinteraksi dengan saudara-saudara muslim kita itu. Sama seperti kami yang datang dari Indonesia, mereka terdiri dari berbagai professi, ada yang akademisi, lawyer, dokter, ulama, guru, dan penggiat-penggiat keislaman lainnya di negara masing. Interaksi dengan mereka berlangsung lancar apalagi bila menyangkut masalah Islam atau masyarakat muslim di negara masing-masing. Bagi saya, yang dengan kemampuan bahasa asing (Arab/Inggris) pas-pasan dan tidak aktif, dan dengan sedikit terbata-bata, namun ini kesempatan ini sangat berharga untuk melatih bicara bahasa Arab dan Inggris secara aktif. Semula sangat canggung saya rasakan karena menduga para tamu ini fasih berbahasa Inggris atau Arab, namun setelah komunikasi berjalan, ternyata hampir semua juga seperti saya, mereka hanya memiliki kemampuan bahasa asing yang pasif, kecuali mereka dari negara-negara yang berbahasa  Arab atau Inggris ....(baca lanjutannya...klik di sini)

© Irhash A. Shamad 
Memuat...
 
Support : Pandani Web Design
Copyright © 2009-2014. Irhash's Cluster - All Rights Reserved
Template Created by Maskolis
Proudly powered by Blogger