Home » , , , » Buku : Pesisir Selatan dalam Dasawarsa 1995-2005

Buku : Pesisir Selatan dalam Dasawarsa 1995-2005

Written By Irhash A. Shamad on 18 April 2014 | 22.34

Setelah membaca draft buku berjudul Pesisir Selatan dalam Dasawarsa 1995-2005 di bawah Kepemimpinan Bupati Darizal Basir, maka kesan awal yang dapat ditangkap lebih pada semangat pengabdian yang ditunjukkan oleh seorang putra daerah di kampung halamannya, ketimbang sekedar catatan perjalanan seorang kepala daerah dalam masa jabatannya seperti yang lazim kita temukan. Pendeskripsiannya terasa tidak berkesan formal karena dikemas dalam jalinan fakta-fakta yang jauh dari kaku. Kombinasi fakta dan inferensi yang terjalin kuat memberi kesan bahwa penulisannya memang bukan ditujukan semata sebagai progress report suatu episode pemerintahan. Meskipun judul buku ini terasa bernuansa monografi daerah, dan disana sini penulis masih memerlukan tampilnya fakta-fakta numerik dan  pointer-pointer monoton, namun dengan penguraiannya yang tidak sebagai lazimnya laporan itu, menjadikannya enak untuk dibaca dan sarat informasi. Namun tentu akan lebih menarik lagi, bila judul buku ini diredaksikan secara luwes dan tidak formal (bila ini bukan merupakan keharusan), sehingga kesan awal dari judul tidak langsung memilah calon pem-baca. Tetapi, bila judul formal ini sulit dihindari, mungkin diperlukan pemadatan redaksional menjadi : Pesisir Selatan dalam Dasawarsa Kepemimpinan Darizal Basir 1995-2005.
Kandungan informasi yang terdapat pada buku ini cukup lengkap, karena ditunjang oleh penelitian yang sangat memadai dan akurat, sehingga sangat layak dijadikan rujukan untuk memenej daerah ini bagi pemerintahan selan-jutnya, namun urut penyajiannya terasa seperti ada ganjalan kecil yang menjadikan alur narasi terasa melompat. Ketika pada bagian awal deskripsi ten-tang kondisi obyektif daerah dikemukakan dengan baik sebagai landasan analisis untuk melihat potensi-potensi yang dimiliki, --bahkan lengkap dengan potensi kultural historisnya --, namun seketika kita diajak melompat melintasi ruang kronologis yang panjang dan sekonyong jatuh pada priode 1995. Ini seperti mengabaikan beberapa episode pra pemerintahan Darizal Basir, yang (mungkin) di dalamnya terdapat serat-serat potensial yang dapat dijadikan pertimbangan bagi kesinambungan upaya daerah ini untuk bangkit dan bergerak maju di masa Darizal sendiri. Pengemukaan episode yang terasa putus ini, menurut saya, sangat perlu untuk lebih memperlihatkan secara linier gerak pembangunan dalam semua sektor, yang memang terjadi kenaikan di masanya.
Penempatan biografi Darizal, menurut hemat kami, perlu  mendapat tempat tersendiri pada buku ini dan seyogianya ditempatkan sebelum penguraian ten-tang pemerintahan dan pembangunan berbagai sektor di masa pemerintahan-nya. Ini akan lebih memberikan gambaran utuh terhadap ketokohannya, karena kemunculan salah seorang putra daerah seperti Darizal ini, akan meng-gambarkan salah satu aset potensial daerah yang dengan penuh kesadaran, tampil dalam kondisi di mana potensi seperti ini sangat diperlukan di masanya dan diharapkan muncul pula pada generasi-genarasi selanjutnya. Dengan demi-kian bagian yang menuturkan performan Pesisir Selatan  tidak menjadi tersedak hanya karena diselingi dengan riwayat masa kecil Darizal sendiri.
Satu hal yang perlu dicatatkan dari sajian buku ini ialah keberhasilan Darizal Basir mengapungkan nama Pesisir Selatan di mata nasional, bahkan interna-sional. Letak geografis serta lingkungan alam yang selama ini menjadi kendala dalam pembangunan ekonomi seperti luasnya kawasan hutan lindung serta keterbatasan akses ekonomi ke dunia luar, ternyata bagi seorang Darizal tidak menjadi hambatan yang berarti.
Dari segi isi buku, capaian-capaian pertumbuhan ekonomi serta peningkatan kelembagaan di masa pemerintahan Darizal Basir telah dikemukakan dengan sangat teliti, namun  minus pada pengemukaan capaian kultural. Agaknya para-digma strukturalisme yang banyak digunakan di masa Orde Baru masih mewa-rnai penulisan ini. Paradigma ini cendrung mengartikan pembangunan sebagai perubahan kearah terwujudnya masyarakat yang luas dengan struktur yang kompleks. Implikasi pandangan ini sangat terasa, ketika standar ukur keberha-silan pembangunan yang dikemukakan adalah indikator-indikator struktural semata, tanpa diimbangi dengan fakta konkrit tentang ketercapaian tujuan kultural masyarakat. Dalam pengemukaan fakta budaya, di sektor pariwisata misalnya, indikator itu sangat jelas terlihat, di mana nuansa kepentingan untuk capaian peningkatan ekonomi, masih sangat diutamakan.
Terlepas dari apa yang dikemukakan terdahulu, apa yang disajikan pada buku ini memang memiliki signifikansi lebih dari sekadar catatan prestisius. Para penulis cukup arif untuk tidak terjebak pada kesimpulan-kesimpulan tendensius dalam pengemukaan fakta-fakta, sehingga kesan apologis penulisan seperti layaknya memoir seorang pejabat, tidak menonjol pada buku ini.
©Irhash A. Shamad
Painan, 20  Juni 2005
Share this article :

+ comments + 1 comments

29 September 2015 22.39

beli buku ini dijakarta dimana ya?

Posting Komentar

Maklumat

Maklumat
 
Support : Pandani Web Design
Copyright © 2009-2014. Irhash's Cluster - All Rights Reserved
Template Created by Maskolis
Proudly powered by Blogger