Home » , , , » Buku : The New Cultural History

Buku : The New Cultural History

Written By ClustAdmin on 21 Januari 2009 | 23.50

Tinjauan atas buku : Lynn Hunt (ed.) (1989), The New Cultural History, Berkeley-Los Angeles-London : University of California Press.
Pengantar :
The New Cultural History karya Lynn Hunt ini mendapatkan bentuk awalnya pada konferensi “French History : Texts and Culture” yang diadakan di Universitas California pada tanggal 11 April 1987 pada saat kunjungan Roger Chartier selama sebulan di Berkeley. Buku ini merupakan sebuah bunga rampai yang ditulis oleh delapan orang penulis dan membicarakan delapan topik utama. Sebagaimana lazimnya sebuah buku bunga rampai, buku inipun menyajikan setiap sub bahasan yang merupakan satu pokok pikiran tersendiri yang terpisah dari sub bahasan lainnya.

Buku ini dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama berisi empat tulisan masing-masing dari Patricia O’rien, Suxanne Desan, Aletta Biersack, dan Lloyd S. Kramer. Setiap topik bagian ini membahas tentang karya dan pemikiran dari tokoh-tokoh sejarah dan budaya seperti Michael Foucault, E. P. Thompson dan Natalie Davis, Geertz, serta Hayden White dan Dominick La Capra. Pada prinsipnya, keempat tulisan pada bagian pertama ini memberikan kritik dan apresiasi terhadap model yang telah ditawarkan pada sejarah budaya.

Bagian kedua menjelaskan tentang pendekatan baru (dalam sejarah budaya) yang ditulis oleh empat orang penulis, yaitu Mary Ryan, Roger Chartier, Thomas W. Laqueur, Randolph Starn. Pada bagian ini dibicarakan beberapa contoh pendekatan baru sejarah budaya. Karenanya buku ini selain membahas tentang pemikiran pada ahli, juga berbagai pendekatan yang kiranya dapat dipakai untuk keperluan studi sejarah budaya.

Model-model Sejarah Budaya :
Dalam sejarah, peralihan ke sejarah sosial dipercepat oleh pengaruh dua paradigma penjelasan, yaitu di satu pihak oleh Marxisme dan aliran Annales di lain pihak. Meskipun Marxisme hampir usang pada tahun 1950-an dan 1960-an, namun sebuah aliran baru muncul dalam suatu bentuk penjelasan yang mendorong para sejarawan menaruh perhatian pada sejarah sosial. Pada akhir tahun 1950-an suatu kelompok muda sejarawan penganut Maxis mulai mempublikasikan buku dan artikel-artikel mengenai “sejarah dari bawah”. Dengan diilhami oleh pemikiran ini, para sejarawan di tahun 1960-an dan 1970an beralih dari sejarah tradisional yang melulu membicarakan sejarah mengenai para pemimpin politik dan institusi politik, ke sejarah mengenai struktur sosial dan kehidupan sehari-hari seperti : para pelayan, wanita, kelompok-kelompok etnik, dan semacamnya.

Pada saat yang bersamaan berkembang pula pengaruh aliran Annales yang didirikan oleh Marc Bloch dan Lucien Febvre sejak tahun 1929. Seperti dikatakan oleh Traian Stoianovich bahwa aliran Annales menekankan pada pendekatan serial, fungsional, dan struktural, untuk memahami masyarakat sebagai organisma yang menyeluruh dan terintegrasi. Paradigma Annales menyelidiki tentang bagaimana sistem dari fungsi-fungsi sosial atau bagaimana keseluruhan dari fungsi-fungsi itu berkolaborasi dalam kurun waktu tertentu secara multi dimensi, yaitu : dimensi temporal, spasial, individual, sosial, ekonomi, budaya, dan sebagainya. Braudel, tokoh aliran Annales sesudah Perang Dunia II dalam disertasinya mengenai Laut Tengah pada masa Philip II, mengetengahkan tiga tingkatan analisa yang dihubungkan dengan tiga unit masa yang berbeda, yaitu : structure yang merupakan kurun waktu yang cukup panjang, dan umumnya didominasi oleh lingkungan geografi ; conjucture atau masa menengah yang diorientasikan pada kehidupan sosial ; serta event (peristiwa) dimana didalamnya termasuk juga tentang politik dan semua hal yang berhubungan dengan individu.

Le Roy Ladurie dan Pierre Goubert mencoba membangun model alternatif mengenai sejarah total kawasan yang difokuskan bukan hanya pada kawasan ekonomi saja, tapi justru pada kawasan Perancis secara keseluruhan. Dalam kajian mereka, sejarah ekonomi dan sosial Foucaults serta pengalamannya sebagai sejarawan budaya memberi alasan secara meyakinkan bahwa kajian budaya dari Foucault melalui prisma teknik kekuasaan, ditempatkan secara strategis dalam wacana ilmiah. Michael Foucault pertama kali mempublikasikan karyanya pada tahun 1961, yaitu Histoire de la Folie mengenai sejarah tentang “kesewenang-wenangan” abad ke-16 hingga abad ke-18 yang benar-benar berada di luar paradigma sejarah sosial baru. Bentuk penulisan Foucault sudah jarang diakui sebagai model alternatif bagi penulisan sejarah budaya, suatu model yang merupakan wujud suatu kritik fundamental terhadap analisis para pengikut Marx dan Annales.

Menurut Patricia, karya kontroversial Foucault merupakan sebuah pendekatan alternatif dalam sejarah budaya baru. Foucault mempersoalkan berbagai prinsip lengkap dan utuh dalam semua bidang sejarah sosial ; dan bahwa masyarakat itu sendiri adalah realitas yang dapat dikaji. Patricia menekankan bahwa meski Foucault adalah seorang sejarawan yang mengkaji tentang sistem pemikiran, namun ia harus dibedakan dengan para sejarawan mentalitas, yang lebih memfokuskan perhatian pada masyarakat, keluarga dan individu. Dalam kajiannya mengenai peradaban barat, Foucault menempatkan prinsip-prinsip organisasi kekuasaan sebagai inti. Kebudayaan dikaji melalui “teknologi” kekuasaan, dan bukan melalui kelas, kemajuan, dan bukan pula melalui dorongan semangat manusia. Menurut Foucault, kekuasaan tidak dapat dipahami melalui kajian mengenai konflik, pergolakan, dan perlawanan. Kekuasaan tidaklah ditandai oleh kelas (borjuis) atau pemegang peran (elit). Bagi Foucault, kekuasaan adalah strategi kebijakan untuk memfungsikan (persetujuan, manuver, taktik, dan tekhnik). Foucault tidak memperlihatkan evolusi atau perulangan. Ia menyebut metodenya dengan “genealogical” yang diartikannya sebagai sesuatu yang kelabu, cermat, dan menggunakan bahan-bahan dokumen dengan sabar dan hati-hati.

Tulisan kedua dari bagian pertama buku ini ditulis oleh Suzanne Desan yang mempersoalkan mengenai keramaian, masyarakat dan ritual karya E.P.Thompson dan Natalie Davis. Fokus perhatian Thompson dan Natalie Davis terutama pada makna, motivasi, dan arti dari legitimasi aksi kekerasan kolektif. Pandangan mereka ini demikian berpengaruh terhadap pandangan sejarawan untuk mendefenisikan kembali jawaban pertanyaan mengenai “keramaian” yang dipersoalkan oleh para sejarawan.

Dalam karyanya yang berjudul Society and Culture in Early Modern France, Natalie Davis memperlihatkan adanya relevansi berbagai konsep dari Max Gluckman dkk. dengan konsep-konsep ahli antropologi Perancis Arnold van Gennep. Pendekatannya juga dapat melengkapi pendekatan sejarah di Perancis melalui pengunaan simbol-simbol antropologi dan melalui penekanan berbagai peranan yang menentukan dari kebudayaan dibanding misalnya dengan faktor-faktor klimatologi, geografi, atau sosial ekonomi.

Thompson mentransformasikan kajian mengenai revolusi industri dan dihidupkannya kembali debat mengenai metodologi Marx. Dalam bukunya The Making of The English Working Class, Thompson menentang perdebatan tradisional mengenai standar hidup kelas pekerja di Inggris pada abad ke-19. Dalam penggunaan istilah kelas Thompson menyangkali berbagai pandangan klasik Marx bahwa defenisi kelas harus disesuaikan dengan posisi di dalam struktur ekonomi atau keterhubungan pada makna produksi. Malahan Thompson memandang kelas sebagai suatu kategori kesejarahan, yang melukiskan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari dalam suatu aktivitas yang membentuk proses. Menurut Thompson kita tidak memahami kelas kecuali kalau kita melihatnya sebagai suatu formasi sosial dan budaya. Thompson juga menegaskan bahwa jika kelas dipakai sebagai sebuah kategori heuristik, maka hal itu tidak dapat dipisahkan dari gagasan mengenai perjuangan kelas.

Thompson sedikit lebih ambivalen sikapnya terhadap antropologi. Karya yang pertama tidaklah dipengaruhi secara langsung oleh antropologi. Ketika Thompson mengalihkan perhatiannya kepada kebiasaan adat istiadat masyarakat abad ke-15, ia melihat adanya potensi pertumbuhan bagi antropologi. Bagi Thompson dorongan hati yang bersifat antropologis adalah sentuhan utama, bukan dalam bangunan modal, akan tetapi dalam wilayah permasalahan baru, yang kelihatan permasalahan lama di dalam pola baru, dalam tekanan atas norma-norma atau sistem-sistem nilai dan atas ritus-ritus, dalam perhatian kepada fungsi-fungsi ekspresif dari bentuk huru-hara dan kerusuhan, dan atas ekspresi simbol kekuasaan, kontrol dan hegemoni.

Sebagai reaksi terhadap interpretasi mengenai tekanan ekonomi atau kekuatan psikologi, Thompson dan Natalie menurut Suzanne Desan, mengajukan dua pertanyaan pokok. Pertama mengapa keramaian yang sebenarnya merupakan pelanggaran dan aktivisme kekerasan merupakan sesuatu yang bermakna dan sah adanya? . Kedua bagaimana masyarakat memainkan peranan yang krusial di dalam mendefenisikan motivasi, tujuan dan tindakan dari kerusuhan. Kedua pertanyaan itu menghubungkan dua konsep yaitu, masyarakat dan legitimasi.

Bertolak dari pandangan Thompson dan Natalie tersebut Suzanne Desan menyimpulkan bahwa sejarawan budaya mesti mengembangkan gagasan yang berbeda mengenai masyarakat dan ritual, yang lebih sensitif pada cara di mana perbedaan kelompok termasuk perempuan, menggunakan upacara keagamaan dan masyarakat untuk membantu perkembangan posisinya yang terpisah. Kekerasan, dalam pandangannya, dapat mentransformasikan dan mendefenisikan kembali masyarakat sebagaimana hal tersebut pernah didefenisikan dan dikonsolidasikan.

Dalam beberapa tahun belakangan ini yang tampak paling menonjol diantara ahli antropologi dalam pekerjaan kesejarahan dan kebudayaan adalah Clifford Geertz. Koleksinya mengenai beberapa esei yang berjudul The Interpretation of Culture telah dipuji oleh para peneliti sejarah dalam berbagai setting kronologi dan geografi. Robert Darnton dalam bukunya The Great Cat Messacre and Other Episodes in France Cultural History jelas menggunakan strategi interpretasi Geertz. Sejarah budaya menurutnya adalah sejarah dalam bagian etnografi. Bentuk antropologi dari sejarah bermula dari dasar pikiran bahwa ekspresi individu sebagai budaya. Dengan kata lain dipersoalkan validitas dari sebuah penyelidikan agar bermakna dalam bentuk interpretasi Geertz. Sebab hal itu cendrung tidak menonjolkan perbedaan di dalam bagian atau penggunaan bentuk-bentuk budaya. Dalam hubungan ini Aletta Biersack menekankan bahwa ukuran Marshal Sahlins hendaknya bermanfaat bagi penyelidikan di masa datang dalam sejarah budaya, diberinya pemikiran kembali mengenai struktur dan event atau struktur dan sejarah dalam terma-terma yang bersifat dialektik yang menyegarkan kembali di antara keduanya.

Pada bagian akhir tulisannya Aletta mencatat adanya pengaruh Geertz dalam tekstualisasi bergerak dalam antropologi dan memperlihatkan bagaimana keterhubungan para ahli antropologi tumbuh dan bertemu dengan para sejarawan budaya.
Tulisan Lloyd S. Kramer juga memperlihatkan berbagai variasi pengaruh sastra pada hasil karya. Tulisan mengenai White dan LaCapra sendiri menunjukkan perbedaan yang sangat berarti didalam penekanan White, dirinya dipersamakan dengan Foucault dan Frye, sedangkan LaCapra dipersamakan dengan Bakhtin dan Derrida.

White dan LaCapra mempersoalkan batas yang memisahkan sejarah dengan sastra dan filsafat untuk menentang apa yang mereka sebut trend-trend dominan dalam historiografi, dan difokuskan kepada peranan yang menentukan dari bahasa dalam deskripsi dan konsepsi kita mengenai realitas kesejarahan. Antara kepercayaan yang menaruh perhatian besar pada perspektif kritik sastra dapat membuat sejarawan lebih inovatif dan lebih sadar mengenai asumsi-asumsi dan penekanan-penekanan mereka.
White dan LaCapra ingin mendekatkan kembali teks dan konteks masa lampau. Tetapi LaCapra cenderung berada dibawah White dalam penekanannya atas persaingan yang menentang unit-unit masa lampau yang tampak dan tatanan yang tampak dari narasi kesejarahan yang melukiskannya. Sementara analisis White mengenai fiksi dan dan struktur filosofi dalam narasi kesejarahan seringkali mendorong koherensi karakteristik struktural mereka, sedangkan LaCapra sering memberi batas pada tendensi-tendensi konflik dalam teks atau konteks yang menentang semua usaha penulisan kesejarahan.

LaCapra, demikian pula White menekankan bahwa sejarawan tak dapat mengalahkan penggunaan struktur naratif untuk mendefenisikan pengetahuan kesejarahan dan memisahkan sejarah dari bentuk-bentuk penulisan yang lain. Tetapi ia juga seperti halnya White memberi alasan bahwa kategori-kategori-kategori itu tidak seharusnya diambil bagi kategori itu sendiri.

Usaha untuk memikirkan kembali disiplin sejarah membawa White dan LaCapra bangkit menentang apa yang mereka terima untuk dijadikan bentuk-bentuk dominan dari pengertian kesejarahan yang bersifat kontemporer yang oleh White dilukiskan sebagai ironi, dan oleh LaCapra sebagai sejarah sosial. White menyangkali bahwa sejarawan modern diikat di dalam sebuah perspektif ironi. Perspektif ini mengembangkan sikep skeptis terhadap jalan di mana aktor-aktor sejarah menggunakan bahasa untuk melukiskan realitas melalui penekanan jurang antara kata dan sesuatu.

Walaupun LaCapra mendukung perhatian White dalam menentang trend historiografi yang dominan, ia mempunyai kecendrungan yang lebih besar pada sejarah sosial daripada ironi. LaCapra dengan mudah mengakui pentingnya sejarah sosial sebagai metode untuk memahami masa lampau, namun ia mengeluh bahwa sejarawan sosial sudah tidak menghargai metode kesejarahan yang lain dan sudah sering lebih menyederhanakan berbagai realitas kompleks dari pengalaman kesejarahan. Kecendrungan terhadap reduksionisme telah beranjak dari sejarah sosial ke sejarah intelektual di dalam studi mentalitas dan sejarah sosial dari ide.

Menurut LaCapra sebagian besar sejarawan membangun sebuah dikotomi hirarkhis antara teks dan konteks yang menekankan abstraksi sebagian teks-teks dan realitas esensial dari konteks sosial. Fungsi teks dalam dikotomi ini sebagai dokumen yang menyatakan atau merefleksikan koherensi dan kesatuan kesejarahan secara relatif ; tempat, waktu , atau budaya. Akan tetapi hasrat untuk membaca teks dalam hal ini mengurangi kompleksitas mereka dan juga tak jelas seluk beluk konteks itu sendiri. Menurut LaCapra konteks itu sendiri adalah bagian dari teks, namun tidak boleh disebut sebagai stereotipe atau deskripsi ideologi., tetapi kritisisme mengenai interpretasi dan informasi. Karena itu LaCapra menganjurkan sejarawan untuk membaca teks dengan sensitifitas pada proses sastra dari intertekstual daripada dengan dugaan yang bersifat reflektif.

White dan LaCapra melukiskan bahwa sekarang ini sedang terjadi pemisahan bentuk-bentuk narasi dari kreasi sastra dengan penulisan sejarah. LaCapra juga ingin menghubungkan konsepsi historiografi dari realitas dengan wilayah makna kesusasteraan. Ia menekankan pentingnya peranan makna simbolik di dalam semua aspek dari proses kesejarahan. Penekanan pada simbol ini menjadi pegangan sebagian kritikus untuk menuduh bahwa LaCapra telah membawa realitas keluar dari konteks sejarah, atau dengan kata lain LaCapra telah membawa sejarah ke wilayah realitas yang sangat luas.

Pendekatan Baru :

1. Dalam tulisan Mary Ryan “The American Parade : Representation of Nineteenth Century Social Order” memberikan perbedaaan tema di dalam gambaran yang sangat tajam. Pawai membuat perasaan masyarakat yang plural demokrasi di kota-kota di Amerika justru melalui pengekspressian yang sangat jelas mengenai batas sosial dan pembagian jender. Dalam hubungan ini Ryan memperlihatkan bagaimana kritik pengertian kesejarahan dari ritus dapat diadakan melalui pertunjukan, bagaimana pawai berubah fungsi dalam setiap waktu ; di mana dalam tahun 1820-an, 1830-an, 1840-an, pawai berbeda fungsi dalam setiap kurun waktu itu. Ryan juga memberi batas peranan jender dalam konstruksi itu menyangkut identitas kewarganegaraan, dan ia juga mengingatkan kita bahwa jender adalah salah satu dari batas yang paling kritis dari difirensiasi budaya dan masyarakat.

Studi mengenai sejarah wanita dalam tahun 1960an dan 1970an dan tahun-tahun belakangan ini menekankan pada perbedaan jender yang memainkan peranan penting I dalam pengembangan dari metode sejarah budaya secara umum. Di Amerika Serikat utamanya, Kajian sejarah wanita dan jender sudah lebih mendekati sejarah budaya baru. Matalie Davis misalnya menyandarkan diri pada perbedaaan antara laki-laki dan perempuan untuk menjelaskan pekerjaan pada masa awal kebudayaan modern. Karya Caroll Smith Rosenberg juga merupakan contoh dari sejarah wanita atau jender dapat memajukan sejarah budaya sebagai suatu bentuk penyelidikan dan penulisan. Tulisan-tulisannya yang dimuat dalam “Discorderly Conduct” misalnya, ia mencoba melahirkan bentuk-bentuk analisis antropologi dan sastra yang jauh lebih luas dari karya Marx Douglas atau Roland Barthes. Di sini, jender sebagai system representasi budaya pada tataran sosial. Sastra dan linguistic terutama berada dalam satu sudut pandang.

2. Tulisan Roger Chartier merupakan contoh penemuan mengenai trend menuju sastra. Dalam tulisan Chartier ditemukan suatu pengantar yang sangat baik untuk memahami buku “The Cultural Uses of Print in Early Modern France”. Dalam tulisan itu Chartier mengulangi pernyataan bahwa kebudayaan tidak melampaui ataupun di atas hubungan sosial dan ekonomi, juga tidak dapat ditempatkan di sisi keduanya.

3. Tulisan Laqueur yang brjudul ”Bodies, Detail, and Humanitarian Narative” menunjukkan potensialnya teknik kesusasteraan yang baru dalam sejarah budaya untuk memperkaya topik-topik sejarah sosial tradisional. Ia menekankan bahwa humanitarianisme bergantung pada bagian perkembangan konstelasi bentuk-bentuk naratif yang menciptakan suatu pengertian mengenai ketelitian dan simpati melalui detail narasi. Dengan menfokuskan pada teknik-teknik narasi dan laporan otopsi Laqueur tidak bermaksud untuk menghindari pertanyaan tradisional mengenai kelas dan kekuasaan dan tidak juga untuk mengembalikan humanitarianisme dari domain sejarah sosial.

4. Tulisan Randolph Starn yang berjudul “Seeing Culture in a Room for a Renaissance Prince” membawa kita ke masa lampau, namun kita berhadapan dengan pertanyaan baru mengenai teknik-teknik sejarah budaya. Walaupun tulisan Starn memperlihatkan pengaruh teori sastra dalam analisisnya mengenai lukisan-lukisan dinding abad ke 15 di Montegna, akan tetapi ia juga mengantarkan kita ke dalam domain yang terlihat sebagai laaan yang terbaca. Dengan cara pandang ini Starn tidak hanya mampu memperlihatkan seni dokumentasi kesejarahan bagi sejarah budaya, akan tetap juga terma-terma mengenai seni perdebatan kesejarahan itu sendiri. Ia menyejarahkan proses melihat dengan menunjukkan bahwa bentuk-bentuk event mempunyai kontent kesejarahan.

© Irhash A. Shamad.


Share this article :

Posting Komentar

Maklumat

Maklumat
 
Support : Pandani Web Design
Copyright © 2009-2014. Irhash's Cluster - All Rights Reserved
Template Created by Maskolis
Proudly powered by Blogger